Monday, 7 August 2017

Keadilan untuk Anak-Anak di Banda Aceh

By Cory Rogers, Communication Officer
 

Yudha dari balik jendela pusat layanan social LPKS © Cory Rogers / UNICEF / 2017
Banda Aceh: Yudha, 17 tahun, sedang duduk di sofa bersama pamannya saat polisi datang. Tak ada waktu bagi keduanya untuk menghindar.
“Saya dibawa keluar dan ditanya dari mana saya dapat barangnya,” kata Yudha, tangannya mengorek-ngorek kuku, di sebuah bangunan di Aceh tempatnya ditahan saat ini.


Saat itu, Yudha dan pamannya baru saja selesai menghirup metamfetamina (atau lebih dikenal dengan “sabu-sabu”) dan masih dalam pengaruh obat-obatan. “Saya bilang, saya dapat sabu-sabu dari teman,” lanjut Yudha.
Belakangan, Yudha mengaku membeli sabu sendiri. Kebiasaan sesekali menghirup sabu bermula sejak SMP, namun memburuk setelah orangtuanya bercerai. Ia tidak lagi masuk sekolah, menghindari pulang ke rumah, dan mulai menjadi pengedar—antara lain untuk memenuhi kecanduan yang mulai terbentuk.


Di negara yang dikenal akan hukum narkotika yang keras, Yudha terancam dijebloskan ke dalam penjara, meskipun usianya masih di bawah umur. Walaupun alternatif seperti rehabilitasi sosial mulai sering digunakan dalam beberapa dasawarsa terakhir, namun masih ada ribuan anak di balik jeruji.
Menurut para ahli, dampak pemenjaraan terhadap anak berjangka panjang. Tidak hanya mengganggu perkembangan emosional dan kognitif di kemudian hari, berada di lingkungan penjara yang terlalu penuh, plus jumlah petugas minim, membuat anak rentan mengalami kekerasan.


"Anak-anak yang ditahan dan dipenjara berisiko kehilangan hak terhadap layanan kesehatan dan pendidikan,” kata Ali Ramly, UNICEF Indonesia Child Protection Specialist. "Penjara bukan tempat yang aman, dan setelah anak dilepaskan, kemungkinan ia beralih ke dunia kejahatan sebagai orang dewasa juga meningkat.”

Friday, 4 August 2017

Kampanye Nasional Imunisasi Campak-Rubella Dicanangkan

Oleh: Cory Rogers, Communications Officer

Anak-anak bermain di luar sekolah sebelum peluncuran kampanye imunisasi Campak Rubella di Sleman, Yogyakarta. Program imunisasi adalah bagian dari komitmen pemerintah untuk membuat Indonesia bebas Campak dan Rubella pada 2020 © Cory Rogers / UNICEF / 2017


Yogyakarta: Pekan ini di Yogyakarta Pemerintah Indonesia mencanangkan insiatif imunisasi, yang terbesar sejauh ini, dengan target memberikan vaksin campak dan rubella (MR) pada 35 juta anak di Jawa pada akhir bulan. Untuk provinsi-provinsi lain di luar Jawa, kampanye ini ditargetkan menjangkau 35 juta anak pada bulan Agustus dan September 2018.

Peluncuran kampanye yang dilaksanakan di sekolah MTs Negeri 10 Sleman, Yogyakarta, diresmikan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo. “Ini namanya menjaga

Friday, 14 July 2017

Melawan Malnutrisi dengan Perawatan Berbasis Komunitas

oleh Blandina Bait, Pejabat Nutrisi

UNICEF mendukung pemerintah Indonesia untuk mengimplementasikan program nutrisi CMAM © UNICEF / 2017

Alfredo (dua tahun) sudah menderita diare selama dua hari saat ibunya yang khawatir, Yosina, membawanya ke puskesmas di dekat komunitas petani pedesaan di Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Anak laki-laki itu sangat lemah dan terlihat pucat; petugas kesehatan yang menanganinya menyatakan bahwa Alfredo menderita gizi buruk akut (SAM).

"Saya sedih dan kaget saat tahu bahwa Alfredo menderita gizi buruk akut," kata Yosina. Dia lebih khawatir lagi ketika mengetahui bahwa SAM membuat Alfredo lebih rentan terhadap penyakit yang bisa mengakibatkan kematian.

Yosina tidak ragu saat petugas kesehatan memintanya untuk

Roots Day Sebagai Ajang untuk Menanggulangi Perilaku Bullying (Perundungan) di Makassar

Oleh Derry Fahrizal Ulum, Child Protection Officer


Saya dan para siswa selama kegiatan pada Roots Day di salah satu stan foto
© UNICEF Indonesia/Derry Ulum/2017

Makassar: "Saya percaya bahwa berteman dengan semua orang merupakan cara yang baik untuk mengatasi masalah perilaku bullying (perundungan). Ketika kita menunjukkan kepada teman-teman terdekat kita bagaimana berperilaku positif, hal ini akan mempengaruhi semua siswa untuk berubah sama seperti kita".

Pernyataan di atas disampaikan oleh salah satu dari 30 'pembuat perubahan' siswa selama 'Roots Day’ di SMPN 37 di Makassar, sebuah kota pelabuhan daerah di barat daya Pulau Sulawesi di Indonesia. ‘Roots Day’ merupakan puncak kegiatan anti-kekerasan yang dilakukan oleh siswa terhadap siswa lainya di sekolah yang diujicobakan oleh UNICEF dengan

Friday, 30 June 2017

Ketika remaja melakukan aksi; orang dewasa mendengarkan


Para Remaja di Desa Oeletsala, Kupang. © UNICEF Indonesia/2017/Liz Pick

Ini sunguh-sungguh belum pernah terjadi sebelumnya. Saya tak pernah berpikir bahwa orang dewasa mau mendengarkan ide yang dilontarkan oleh Remaja.

Demikian yang disampaikan oleh Ina seorang gadis berusia 17 tahun yang bermukim di Desa Oeletsala, sebuah desa yang terletak didekat kota Kupang, Indonesia Bagian Barat. Ina bersama dengan 40 penduduk dari tiga desa lainnya adalah bagian dari program percontohan yang ditujukan untuk membantu remaja belajar mengenali risiko-resiko dalam kehidupan remaja dan mengidentifikasi solusi potensial. Kegiatan ini dilakukan dengan