Thursday, 16 February 2017

Ricky dan Kebaikan Kecilnya

Oleh: Dinda Veska

Ricky (5) dari Klaten ©UNICEF/Dinda Veska/2017 

Di tengah kemeriahan suasana taman bermain PAUD Al-Hidayah, terlihat seorang anak yang diam-diam sedang mengisi beberapa sendok pasir ke dalam kantung bibit kecil. Sementara anak-anak lainnya sangat bergembira mengikuti Bunda PAUD menari dan bernyanyi, Ricky lebih memilih untuk mengisi kantung-kantung bibit tersebut sendirian.

Ketika ditanya kenapa hanya bermain sendirian, Ricky hanya menjawab “Mau bantu Ibu Guru”

Ricky mengisi pasir ke dalam kantung-kantung bibit kecil ©UNICEF/Dinda Veska/2017

Ricky adalah satu dari puluhan anak lainnya di desa Cenang yang ditinggal pergi oleh orang tua mereka untuk mencari nafkah jauh keluar dari Kabupaten Brebes. Ibunya pergi bekerja ke Taiwan sejak Ricky berusia 3 tahun, dan sang Ayah sudah lama tidak kembali karena mencari nafkah di Jakarta sebagai tukang bangunan.

Sehari-hari anak berusia 5 tahun ini diasuh oleh ‘Si Mbah’ – nenek dari pihak sang ibu. Tidak hanya saat belajar di PAUD, di rumahpun Ricky sangat pendiam, ia cenderung pasif dan sangat menikmati waktunya ketika sendiri.

Saat teman-teman lainnya telah selesai bernyanyi dan belajar, Ricky juga telah beralih dari kolam pasirnya. Ia lalu belajar mewarnai dari pelepah daun pisang, kantung-kantung bibit tadi ternyata digunakan oleh teman-temannya untuk belajar menanam bibit bunga.

Alasannya bermain sendirian ternyata sangat sederhana, hanya sekedar ingin meringankan tugas ibu guru dalam menyiapkan perlengkapan belajar.


Kebaikan kecil dari Ricky merefleksikan apa yang telah dilakukan oleh ‘si mbah’. Selama hampir dua tahun ia meringankan hidup Ricky, menjaga, menimang, menemani, menjadi pendukung setia untuk segala hal yang Ricky butuhkan.

Ricky bersama ‘Si Mbah’ di dalam kelas ©UNICEF/Dinda Veska/2017 

Tanpa disadari setiap kebaikan yang sang nenek berikan juga mengajarkan Ricky untuk membantu sekelilingnya meski dalam diam.

Ricky sering kali sulit mengungkapkan apa yang ia inginkan, itu juga yang menjadi alasan ‘si mbah’ mendaftarkan Ricky ke PAUD Al-Hidayah. Di sana cucu kesayangannya akan terbiasa berinteraksi dengan teman-teman seusia dan juga belajar banyak hal dari bahan ajar kreatif yang disediakan oleh Ibu guru. Selain itu beberapa kali ‘Si Mbah’ sendiri juga sering mendapat pelatihan tentang perlindungan dan tumbuh kembang anak.

Dibalik terfasilitasinya Ricky untuk bermain dan belajar di PAUD Al-Hidayah, ada jutaan orang yang juga telah banyak memberikan kebaikan-kebaikan kecil melalui UNICEF. Jutaan orang ini dalam diam menyisihkan sebagian rezekinya hingga dapat mendukung program PAUD Holistik Integratif UNICEF bekerjasama dengan pemerintah. Banyak diantaranya pelanggan Alfamart yang ikut memberikan kebaikannya di tahun 2014 dan 2015.

Jika Ricky memiliki ‘Si Mbah’ yang akan selalu menjadi penopang hidupnya. UNICEF pun sangat beruntung karena selalu diberikan dukungan dan kepercayaan tiada henti dari para mitra dan donatur. Karenanya upaya-upaya yang UNICEF lakukan untuk mengubah masa depan setiap anak melalui program-program pemerintah selalu bisa terlaksana dengan baik.

Ricky bersama teman-temannya di PAUD Al-Hidayah ©UNICEF/Dinda Veska/2017 

Ricky dan kebaikan kecilnya mengingatkan kita untuk terus berkolaborasi dan saling mendukung satu sama lain, demi menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk setiap anak di dunia.

Tuesday, 7 February 2017

Mendesain Solusi untuk Anak-anak di Era Kabut Asap


©Center for International Forestry Research/2016

Oleh Cory Rogers, Petugas Layanan Komunikasi

 
Jakarta. Ketika kebakaran hutan tahunan di Indonesia mulai terjadi di setiap musim gugur, dengan menyemburkan kabut asap yang tajam ke daerah Kalimantan, Sumatra, dan mancanegara, udara yang dihisap oleh masyarakat di daerah tersebut menjadi sesuatu yang membahayakan kesehatan mereka: Sekolah ditutup, ribuan orang jatuh sakit, dan beberapa orang akan meninggal akibat penyakit pernapasan.


Ada sedikit perdebatan yang menyatakan bahwa kabut asap menyebabkan kematian, tetapi sampai saat ini solusinya belum juga terlihat, sehingga jutaan penduduk rural Indonesia tetap terekspos pada bahaya. Memang, walaupun peraturan pembakaran lahan dan hutan sudah ditetapkan setelah terjadinya kabut asap yang disebabkan oleh El NiƱo pada tahun 2015 (suatu studi melaporkan bahwa kejadian tersebut menyebabkan kematian dini pada 100.000 orang), kabut asap kembali terjadi di tahun 2016. Jelas, ide-ide baru sangat dibutuhkan.



Tim desain menyisir sumber materi utama mengenai hidup dengan  kabut asap ©UNICEF/Cory Rogers/2016 


Pada bulan lalu, sekelompok orang yang terdiri dari 30 desainer, kreatif teknik, serta ahli perkembangan dan pemasaran bertemu di Jakarta untuk meninjau kembali masalah kabut asap. Diselenggarakan oleh PulseLab Jakarta yang bermitra dengan UNICEF dan Reality Check Approach (RCA), workshop yang didesain bersama-sama ini berusaha menemukan berbagai cara untuk melindungi anak-anak. Sebagai langkah pertama dari perjalanan yang akan memakan waktu berbulan-bulan, workshop tersebut merupakan bagian dari komitmen UNICEF Indonesia untuk mengurangi risiko di era di mana musibah yang disebabkan oleh alam maupun manusia semakin pesat.
 

“Dari sisi inovasi, nilai suatu pertemuan yang menghadirkan peserta dari sektor-sektor berbeda di satu ruangan adalah adanya pendekatan-pendekatan berbeda pada masalah yang sama,” kata Valerie Crab, Specialis Program Inovasi UNICEF, yang berpartisipasi dalam workshop. “Hal ini medorong kami dari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk keluar dari cara pemikiran yang biasa dan memertimbangkan sudut-sudut pandang yang beda.”


Filosofi “desain yang berpusat pada manusia”, yang memosisikan pengalaman orang-orang yang sedang didesain pada pusat proses desain, membuat setiap fase workshop jadi meriah –dari riset hingga brainstorming hingga pembuatan prototip.


Kliping berita sepertin ini merupakan satu dari banyak tipe sumber bukti utama yang dimasukkan ke paket informasi packets ©UNICEF/Cory Rogers/2016 

Akan tetapi, untuk mensukseskan program workshop ini dari Jakarta, diperlukan beberapa pendekatan kreatif: Pertama-tama, cerita-cerita digital yang berasal dari anak-anak dan para orang tua di Riau dan Kalimantan Barat (dua propinsi yang mengalami kerusakan paling parah) diseleksi oleh RCA. Sekumpulan peta, anekdot-anekdot asli, foto-foto dan material lainnya digunakan sebagai stimuli tambahan, sementara beberapa aktor, yang telah dipersiapkan secara teliti sebelumnya,  diminta untuk  berperan sebagai para ahli dan korban yang bisa diwawancara. Walaupun identitas mereka dirahasiakan bagi para partisipan workshop, testimoni mereka adalah berdasarkan rekaman serta wawancara asli.


Semua unsur tersebut menghasilkan suatu pandangan yang relatif transparan mengenai  kehidupan di era kabut asap.


“Metode-metode ini membantu menghidupkan proses brainstorming dengan memicu empati, membuatnya lebih terhubung dengan pengalaman dari orang-orang yang sebenarnya,” kata Richard Wecker, Spesialis Reduksi Risiko Musibah dari UNICEF Indonesia. “Idenya adalah untuk menyalakan kreativitas melalui suatu penggambaran lebih jelas tentang apa saja yang bisa dilakukan se-efektif dan se-efisien mungkin.”


Para peserta workshop menemukan bahwa bahaya kabut asap lebih dari sekadar menyebabkan penyakit pernapasan dan kematian dini, yaitu termasuk kerusakan perkembangan kognitif dan kehilangan kesempatan bersekolah. Dan, tidak ada yang pernah menduga sebelumnya, bahwa ketika sekolah ditutup akibat kabut asap, risiko anak-anak terekspos pada bahayanya justru meningkat, karena mereka cenderung menghabiskan waktu lebih lama berada di area terbuka. Banyak tim peserta yang menjelajahi paradoks ini secara lebih dalam pada sesi brainstorming.

Richard Wecker dari UNICEF berbagi ide tentang bagaimana membantu anak-anak tetap bisa belajar saat kabut asap melanda ©UNICEF/Cory Rogers/2016

Dengan tidak keluar dari pendekatan ‘desain yang berpusat pada manusia’, para peserta juga diminta untuk melakukan langkah ekstra dan mengantisipasi ekosistem di mana projek mereka dapat diberlakukan. Itu berarti, mereka harus berpikir lebih keras tentang faktor-faktor sosial-lingkungan yang bisa membatasi sisi efektivitas, serta membuat rencana untuk mengatasi hal-hal tersebut.


“Misalnya, sementara platform informasi online yang terbuka untuk anak-anak muda mungkin bisa menjadi solusi untuk menjawab masalah terputusnya penyediaan data bagi penduduk yang terkena dampak kabut asap,” menurut PulseLab Jakarta, “sejumlah faktor dapat membatasi efektivitas implementasi platform tersebut –seperti akses teknologi, kemampuan membaca data, dan tidak adanya proses validasi.” Maka, inisiatif-inisiatif pelengkap seperti informasi offline pada lokasi strategis, menjadi sangat penting bagi projek secara keseluruhan.

©UNICEF/Cory Rogers/2016

Pada akhirnya, masing-masing dari enam tim workshop bersepakat untuk memilih satu prototip, yang kemudian dibuat menjadi suatu miniatur dengan menggunakan material seperti kardus dan styrofoam –“material-material yang simpel supaya para peserta bisa lebih fokus pada konsepnya daripada estetikanya,” pemimpin desain dari PulseLab jakarta, Kautsar Anggakara, menjelaskan.


Beberapa tim desain sangat menyarankan penggunaan sistem dan ruang pembelajaran baru sebagai wacana untuk melindungi anak-anak dari kabut asap dan membuat mereka tetap bersekolah.
 
Peserta membangun purwa rupa (prototype) ruang belajar bebas asap ©UNICEF/Cory Rogers/2016

“Kami telah merancang satu “sistem cadangan” yang kami namakan pembelajaran massal dari jarak jauh, berdasarkan komunitas,” kata Saras, desainer yang mencetuskan ide untuk menyediakan perpustakaan digital berisi pelajaran-pelajaran yang dapat diakses secara mobile, sehingga para pelajar dapat belajar di rumah masing-masing selama kabut asap. “Tapi untuk mengoptimalkannya, kami perlu mencari cara untuk memastikan bahwa rumah mereka juga bebas dari kabut asap,” katanya.
 

Menurut JP, seorang spesialis inovasi dari satu perusahaan solusi lingkungan yang berbasis di Hong Kong, “tidak ada peluru perak” yang bisa melindungi anak-anak dari kabut asap. Prototip yang dibuatnya, ‘Keliling Fantasi’ –suatu ruang kelas yang berkeliling selama kabut asap, dan berubah fungsi sebagai sumber data selama musim hujan tanpa kabut asap– dapat dianggap sebagai pembelajaran tentang lingkungan, bukan kurikulum nasional. Oleh karena itu, kemungkinan besar pendanaannya harus datang dari sektor swasta, katanya.


Pada bulan-bulan berikutnya, UNICEF berharap untuk dapat melihat prototip-prototip yang lebih disempurnakan melalui beberapa workshop dengan peserta dari pihak-pihak yang berkepentingan lainnya, “untuk memastikan bahwa ide-ide dan pengertian pandangan yang sudah dihasilkan dapat semakin berkembang dari konsep kreatif menjadi aksi nyata untuk perubahan,” kata Richard. “Beberapa prototip menunjukkan peluang yang menjanjikan untuk menarik minat; target kami adalah mendukung pihak-pihak yang berkepentingan untuk mendanai, mengeksekusi serta memerbaiki satu atau dua area yang menderita dampak kabut asap.”

‘Rumah bermain bebas asap' ©UNICEF/Cory Rogers/2016
 
“Mendapatkan komitmen dari pemimpin komunitas serta partisipasi nyata dari anak-anak muda  –hal-hal ini adalah tantangan kunci untuk projek perdana yang sukses,” tambah Valerie. Konsep yang didesain bersama-sama tersebut mungkin perlu diuji coba di daerah-daerah yang terkena dampak kabut asap. “Kami berharap dapat meluncurkan proses untuk anak muda seperti ini di Kalimantan Tengah, atau mungkin Riau,” katanya. “Suatu workshop yang didesain bersama-sama bisa sangat efektif mendorong para anak muda untuk menjadi agen perubahan.”
 

“Ketika anak-anak muda menjadi bagian yang aktif dari solusi –saat itulah Anda mendapat potensi besar untuk suatu perubahan,” tambahnya.

 

Wednesday, 25 January 2017

Tenda UNICEF untuk anak-anak di Pidie Jaya - Aceh

Oleh: Cory Rogers

Hari Rabu, saat ribuan orang keluar untuk salat subuh berjamaah, tanah di Pidie Jaya – Aceh Utara tiba-tiba terguncang. Dalam hitungan menit, 3000 rumah hancur menjadi puing-puing, jalanan di sekitar terbelah dan rusak parah.

Berdasarkan data terakhir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 102 orang meninggal duni, lebih dari 300 orang terluka, dan 85.000 penduduk saat ini masih dalam pengungsian. Seperempat dari mereka yang meninggal berusia di bawah 18 tahun.

Dampak langsung dari gempa tersebut adalah puluhan ribu orang kehilangan rumahnya. Juga banyak dari mereka yang tidak memiliki akses pelayanan yang baik seperti, air yang aman, kesehatan dan sanitasi, bahkan pendidikan.

Wednesday, 18 January 2017

Sebuah Gerakan untuk Perubahan yang berpusat pada Anak Gadis

Oleh Felice Baker, JPO, Perlindungan Anak

Jakarta:”Penciptaan generasi yang kuat tidak akan tercapai jika sang ibu, yang merupakan sumber pertama pendidikan bagi seorang anak, adalah seorang gadis yang belum siap menjadi seorang ibu,” demikian perkataan Ibu Sinta Nuriyah Wahid, pendukung hak-hak perempuan dan mantan Ibu Negara (1999-2001), pada saat peluncuran Jaringan Gadis Remaja Indonesia di Jakarta.

Lokakarya dua hari ini, yang diadakan oleh UNICEF bekerjasama dengan Flamingo Social Purpose dan Rumah Kita, menghadirkan pendukung dari 28 organisasi berbasis di Indonesia, yang berfokus pada isu-isu seperti pernikahan anak, kesehatan reproduksi dan kesetaraan gender. Jaringan ini didirikan untuk memungkinan para anggotanya mengkoordinasikan dan mengimplementasikan intervensi, memperbesar dan mengembangkan sinergi untuk hasil yang terbaik bagi para gadis remaja.

Chernor Bah, pendukung hak-hak gadis dan anak muda dan pendiri Jaringan Gadis Remaja Sierra Leone, memperkenalkan kepada para peserta prinsip-prinsip yang ia sebut sebagai ‘program yang terpusat pada anak gadis’, sebuah filosofi yang dimulai dengan kepercayaan bahwa “permainannya dibuat untuk mencurangi anak gadis, mereka dibuat kalah – dan jika anak gadis kalah, semua orang kalah,” ujarnya.

Secara global, anak-anak gadis umumnya kurang sehat, kurang terdidik dan menikmati hak-hak yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan anak lelaki, menghadapi kemudaratan sistematik yang disebabkan norma-norma yang diskriminatif. Pada saat pubertas, anak-anak gadis menghadapi resiko diperlakukan dengan tidak pantas, harus melakukan pekerjaan domestik dan putus sekolah, menjadi terisolasi secara sosial. Bahkan menurut sebuah studi yang dilakukan di Afrika Selatan oleh Population Council, sebuah pusat pemikiran pembangunan yang berpusat di New York, pada saat pubertas, akses anak-anak gadis terhadap tempat-tempat seperti pasar, pusat kesehatan dan perpustakaan juga berkurang, sementara untuk anak lelaki akses itu bertambah. Berinvestasi pada anak-anak gadis tidak hanya menjanjikan imbalan ekonomis yang signifikan, tapi juga dampak yang besar pada hampir setiap indikator pembangunan, dari partisipasi anak-anak gadis di pasar tenaga kerja, yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi, hingga perbaikan kesehatan dan pendidikan untuk generasi mendatang1.

Program yang berpusat pada anak gadis membuat mereka menjadi fokus dari setiap keputusan program; hal ini termasuk menentukan siapa yang ditargetkan, kapan dan bagaimana memantau kemajuan mereka. Program seperti ini dapat menunda pernikahan, meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, meningkatkan rasa percaya diri dan memperbaiki literasi keuangan.

Selama lokakarya, anggota Jaringan setuju bahwa  memberdayakan anak gadis melalui peningkatan literasi keuangan, perluasan jaringan pendukung sosial dan perbaikan pengetahuan mereka tentang kesehatan, akan menjadi misi penyatuan. Jika dikombinasikan, hal ini akan mengurangi  kerentanan anak-anak gadis, dan menciptakan pertahanan terhadap pernikahan anak, kehamilan remaja dan putus sekolah,

Dengan menempatkan anak gadis di pusat, Jaringan Gadis Remaja Indonesia sekarang siap untuk memperkuat karya penting mereka. Anggota akan bertemu tiap bulan untuk berbagi informasi mengenai aktivitas, melakukan koordinasi riset dan intervensi bersama dan menyerahkan usulan bersama untuk pendanaan. Saat ini sedang direncanakan sebuah inisiatif bersama untuk membuat platform online, yang memungkinkan anak-anak gadis untuk berkomunikasi dengan rekan dan mentornya.

Tuesday, 10 January 2017

Ayo Kembali ke Sekolah di Pidie Jaya

Oleh Cory Rogers, Communication Officer





Para siswa kelas 2 belajar di tenda pendidikan yang didirikan beberapa hari setelah gempa berkekuatan 6,5m terjadi di tiga kabupaten, yang menewaskan ratusan orang dan mengakibatkan ribuan orang terlantar di kawasan barat laut Provinsi Aceh © UNICEF Indonesia / 2017 / Cory Rogers.


Pidie Jaya, Aceh:
Mula-mula terjadi retakan di dekat pintu, kemudian dinding belakang terbelah melalui ubin berdebu, yang berjarak kira-kira enam atau tujuh meter.

Mengingat reruntuhan yang jaraknya sangat dekat – dimana rumah-rumah hancur, sekolah-sekolah tinggal tumpukan puing – kejadian tersebut, yang digambarkan oleh guru di MIN Pangwa sebagai kerusakan terparah oleh gempa, tampaknya dianggap sebagai hal yang tidak penting.


Tetapi bagi Rajwa, 10 tahun, siswa kelas lima, kejadian tersebut merupakan semacam pemicu - pengingat yang menakutkan tentang peristiwa yang menewaskan dua teman sekelasnya dan mengakibatkan keluarganya meninggalkan rumah mereka selama beberapa minggu.
Rajwa di luar MIN Pangwa © UNICEF Indonesia / 2017/ Cory Roger
"Saya tidak ingin gempa terjadi lagi," kata Rajwa. "Saya tidak ingin melihat kejadian itu, saya tidak ingin masuk ke sana."

Berkat bantuan tenda yang diberikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada tanggal 27 Desember, kini Rajwa tidak perlu merasa takut.

Seperti siswa-siswa di hampir 200 sekolah di tiga kabupaten yang terkena dampak, Rajwa akan menggunakan tenda tersebut sebagai ruang belajar sambil menanti perbaikan ruang kelasnya. Kegiatan ini merupakan inisiatif pemulihan dengan keyakinan bahwa pada saat terjadi bencana, pendidikan menjadi semakin penting.

 Seorang guru membantu anak di salah satu tenda yang diberikan oleh BNPB sehingga para siswa dapat terus belajar karena kelas mereka yang rusak sedang diperbaiki. © UNICEF Indonesia / 2017 / Cory Rogers 

 "Anak-anak tidak membutuhkan pendidikan bahkan dalam keadaan darurat. Mereka membutuhkan pendidikan khususnya dalam keadaan darurat, '' kata Executive Director UNICEF Anthony Lake. Penelitian menunjukkan bahwa pada saat krisis, sekolah memberikan struktur dan kegiatan rutin untuk membantu anak-anak mengatasi rasa takut, kehilangan atau stres.

Berdasarkan pandangan seperti ini, Pemerintah – melalui kemitraan dengan berbagai organisasi, termasuk UNICEF - telah mencanangkan kampaye "Ayo Kembali Ke Sekolah", yang berupaya untuk mencapai kehadiran siswa secara penuh di sekolah pada awal Januari. Di MIN Pangwa, para guru menyatakan bahwa kehadiran siswa telah mencapai kira-kira 70 persen.   

Akan tetapi, sepanjang jalan di SDN Peulandok Tunong, para guru mengatakan bahwa para siswa telah hadir selama beberapa minggu.

"Semua kecuali dua dari 93 siswa kembali ke sekolah hari ini," kata Ibu Wardiah, wakil kepala sekolah SDN Peulandok Tunong. Sekelompok siswa kelas dua berlatih membaca jam yang ada di belakangnya, pada pelajaran terakhir mereka hari itu.

Terletak tiga kilometer di sepanjang jalan yang sempit dengan pinggiran pohon-pohon padi, SDN Peulandok Tunong roboh pada saat terjadi gempa. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang pertama menerima tenda pada tanggal 11 Desember dari Kementerian Pendidikan. Setelah itu, tenda kedua didirikan oleh BNPB sebagai tempat untuk kegiatan-kegiatan belajar.   

Ibu Wardiah, (paling kiri) dan sesama guru SDN Peulandok Tunong berkumpul di luar tenda yang diberikan oleh UNICEF kepada Kementerian Pendidikan. Sekolah mereka merupakan sekolah pertama untuk berkumpul kembali pada hari-hari awal setelah gempa. © UNICEF Indonesia / 2017 / Cory Rogers  

Kelompok guru sekolah ini melihat bahwa tenda-tenda tersebut merupakan kunci untuk membantu memulihkan anak-anak, sehingga mereka mencoba untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan permainan-permainan dengan bantuan LSM setempat. Pada suatu sore yang mengesankan, para relawan datang untuk mengajar lagu kepada anak-anak tentang menyelamatkan diri dari gempa, sebuah lagu yang kini mereka hafal.

"Ini desa saya, dan ini anak-anak saya," kata Ibu Wardiah, yang telah mengajar di sekolah tersebut selama lebih dari 30 tahun. "Kami tidak tahu apakah sekolah-sekolah lain juga seperti ini, tetapi kami tahu bahwa sekolah kami seperti ini," katanya dengan bangga.

Baru pada tanggal 2 Januari para guru mulai menggunakan kurikulum resmi, "karena pada akhirnya, membaca, menghitung dan menulis merupakan hal-hal sangat penting yang harus kami ajarkan kepada anak-anak kami," jelas Ibu Wardiah.

Di lokasi-lokasi dimana sekolah mengalami kerusakan dan belum diperbaiki, bangunan-bangunan semi permanen seperti bangunan ini di SDN Peulandok Tunong sedang dibangun oleh kontraktor pemerintah untuk mengganti tenda. Ruang kelas yang bersifat sementara ini akan memungkinkan anak-anak untuk belajar dalam lingkungan yang lebih aman dan nyaman sementara mereka menunggu pembangunan fasilitas permanen mereka © UNICEF Indonesia / 2017 / Cory Rogers.

Menurut Kepala Dinas Dinas Pendidikan Pidie Jaya, Pak Saiful, sekolah-sekolah lain telah berupaya untuk meniru keberhasilan SDN Peulandok Tunong dalam kehadiran siswa, sebagian karena orang tua masih khawatir tentang keselamatan. Hal ini tidak mereka lupakan. Beliau mengatakan bahwa sekolah mengalami beberapa kerusakan paling parah.


"Kami harus memastikan bahwa sekolah-sekolah baru tahan gempa," katanya. Ia menyalahkan desain dan konstruksi yang buruk. "Hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi."


Konstruksi yang buruk mengakibatkan kerusakan seperti ini di SDN Peulandok Tunong, terlihat di sini hanya beberapa hari setelah gempa. © UNICEF Indonesia / 2017 / Yusra Tebe  

Menurut Programme Assistant UNICEF Indonesia, Said Ikram, "Di Aceh, mereka masih beruntung karena gempa besar terjadi sebelum anak-anak tiba di sekolah dan setelah mereka pulang. Gempa ini telah membuka mata orang-orang di Pidie Jaya untuk membangun sekolah-sekolah yang lebih aman."

Dengan bantuan UNICEF, pihak yang berwenang masih menentukan berapa banyak sekolah yang harus dibangun kembali. Sementara itu, pemberian tenda dan pembangunan raung kelas semi permanen akan tetap menjadi prioritas utama Pak Saiful.

"Kami masih memerlukan 37 tenda [pada tanggal 3 Januari]," katanya. "Fokus saya bulan ini adalah mengupayakan sebanyak mungkin siswa untuk kembali ke sekolah sehingga mereka tidak ketinggalan ujian nasional," katanya. Ujian tersebut, yang dijadwalkan pada musim semi, akan menentukan apakah siswa dapat naik ke kelas berikutnya.

Terlepas dari pentingnya ujian tersebut, guru-guru di MIN Pangwa mengatakan bahwa sangat penting untuk mengupayakan para siswa kembali pada keadaan normal dengan langkah mereka sendiri.

"Misalnya, kami biasanya mengijinkan siswa pulang pukul 12 siang, tetapi hari ini mari kita lihat apa yang terjadi," kata salah satu guru yang tidak mau disebutkan namanya. "Banyak anak masih mengalami trauma, sehingga sangat penting bagi kami untuk tidak memaksa mereka. Kami tetap fleksibel," tambahnya.

Sementara itu, Rajwa mengatakan bahwa ia sangat bersemangat untuk mulai belajar lagi, terlepas dari adanya kejadian yang menakutkan. Ia bercita-cita ingin menjadi seorang tentara Angkatan Darat, dan ia mengatakan bahwa sekolah akan membantunya untuk mewujudkan cita-citanya.

"Kami sudah lama berada di luar sekolah," katanya, dengan mata berkedip memandang ke tanah yang ada di depannya. "Kadang-kadang saya masih merasa takut, tetapi kedatangan ke sini membuat saya senang."   
Siswa-siswa MIN Pangwa antri untuk membeli sosis daging sapi murah pada saat istirahat siang © UNICEF Indonesia / 2017 / Cory Rogers