Tuesday, 8 December 2015

Kisah Dewi: Rumah Pelacuran di Papua

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Dewi tinggal dan bekerja di lokalisasi Timika. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

Timika adalah kota kecil kotor yang terletak di perbatasan Provinsi Papua. Timika berada pada bayang-bayang tambang emas terbesar di dunia, Freeport. Tetapi kekayaan luas yang membentang beberapa mil jauhnya berdampak kecil terhadap kehidupan sebagian besar orang di Timika.

Papua berjuang dengan tingkat kemiskinan yang tinggi. Banyak keluarga mengandalkan sumber pendapatan mereka sepenuhnya pada penangkapan ikan atau sumber-sumber pendapatan pertanian lainnya. Pekerjaan seringkali langka dan kesempatan kerja tidak banyak. Bagi beberapa anak perempuan muda, hanya ada satu cara untuk menjalani hidup yang layak.

"Saya telah bekerja di lokalisasi  selama kurang lebih tiga bulan," kata Dewi*. Dewi sekarang tinggal di salah satu lokalisasi yang kotor di luar Timika. Kliennya kebanyakan laki-laki kelas pekerja dari desa-desa sekitarnya. Pelanggan saya antara lain "sopir truk, pekerja tambang dan tentara."

Friday, 4 December 2015

U-Report Indonesia Resmi Diluncurkan

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer 

Jeffery Hall dan Vania Santoso dari UNICEF Indonesia Innovation Lab bicara tentang U-Report. ©UNICEF Indonesia/2015 /Nick Baker 

Jakarta, INDONESIA 4 Desember 2015 - UNICEF resmi meluncurkan U-Report Indonesia: Sebuah platform inovatif baru yang memberikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk bicara tentang isu-isu yang mempengaruhi hidup mereka.

Ratusan anak muda Indonesia menghadiri acara peluncuran di Jakarta, dimana para anggota UNICEF Indonesia Innovation Lab menjelaskan tentang bagaimana U-Report bekerja dengan menggunakan ponsel.

U-Report Indonesia adalah sistem jajak pendapat berbasis Twitter yang memungkinkan anak-anak muda berbagi tentang pendapat mereka tentang topik-topik penting mulai dari pendidikan hingga kesehatan dan pemerintahan," kata UNICEF Indonesia Innovation Lead Jeffery Hall.

UNICEF sambut komitmen Gubernur untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak

Oleh Kinanti Pinta Karana, Spesialis Komunikasi UNICEF Indonesia

Gubernur Ganjar Pranowo (tengah, bertopi hitam) mengatakan anak-anak Indonesia harus tumbuh dengan hebat karena mereka adalah pemimpin masa depan.  © UNICEF Indonesia/2015/Julianingsih

Derai tawa anak-anak terdengar di halaman gedung DPRD Semarang dimana ratusan orang berkumpul untuk merayakan Hari Anak Sedunia.

Tamu kehormatan dalam acara yang diselenggarakan oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah bersama UNICEF dan sejumlah mitra lainnya adalah Gubernur Ganjar Pranowo.

Ia menunjukkan dukungan besar terhadap kesejahteraan anak Indonesia dengan bergabung dalam kampanye Pelindung Anak. “Anak-anak di Jawa Tengah harus tumbuh hebat karena mereka akan menjadi pemimpin Indonesia masa depan,” kata Bapak Ganjar setelah ia mendaftar online sebagai Pelindung Anak.

Tuesday, 1 December 2015

Pemberian ASI yang lebih baik: solusi untuk masalah kekurangan gizi

Sonya memberikan konseling tentang menyusui kepada ibu baru. ©UNICEF Indonesia/2015/Harriet Torlesse

Kabupaten Kupang merupakan salah satu kabupaten yang mengalami krisis permasalahan kekurangan gizi di NTT.

Sonya Timuli, tiga puluh dua tahun, bekerja setiap hari di kabupaten dan menghadapi permasalahan ini. Ia telah menjadi kader posyandu di sebuah desa kecil di daerah ini selama tujuh tahun terakhir.

Para kader posyandu seperti Sonya melihat anak-anak yang tak terhitung jumlahnya yang mengalami kekurangan gizi. Survei terbaru yang dilakukan oleh UNICEF dan Action Contre La Faim menunjukkan bahwa 21 persen anak-anak di daerah ini mengalami kurang gizi akut (sangat kurus) dan 52 persen mengalami stunting (terlalu pendek untuk usia mereka).

Untuk mengatasi masalah ini, Sonya memberikan berbagai layanan gizi kepada masyarakat  di desanya. Salah satu bagian terpenting dari pekerjaannya adalah memberikan bimbingan dan konseling kepada ibu-ibu baru tentang berbagai praktek pemberian ASI yang tepat.

Thursday, 26 November 2015

UNICEF Bermitra dengan Gerakan Pramuka Indonesia

Oleh: Kinanti Pinta Karana, Spesialis Komunikasi UNICEF Indonesia

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Bapak Adhyaksa Dault (keenam dari kanan), dengan Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Ibu Gunilla Olsson (ketiga dari kanan), Direktur Radio Republik Indonesia Ibu Niken Widiastuti (kedua dari kanan) dan Kepala Komunikasi Bapak Michael Klaus (paling kanan) dengan Penasihat Khusus UNICEF bapak Purwanta Iskandar dan anggota Pramuka pada penandatanganan Perjanjian Kerja Sama 26 November 2015. (© UNICEF Indonesia/2015/Santoso)

JAKARTA, Indonesia, 26 November 2015 – Kesibukan tampak di Kwartir Nasional Gerakan Pramuka menjelang acara yang sudah lama dinantikan: Penandatanganan perjanjian kerja sama antara Pramuka dan UNICEF Indonesia.

Perjanjian Kerja Sama (MOU), yang ditandatangani oleh Ketua Pramuka Adhyaksa Dault dan Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Gunilla Olsson pada 26 November 2015 itu membuka jalan bagi kerja sama untuk memperkuat implementasi hak-hak anak di Indonesia.

Bapak Adhyaksa mengatakan ia antusias dengan kemitraan ini. “Pramuka akan menggunakan kerja sama dengan UNICEF untuk mendorong perlindungan terhadap anak serta hak mereka untuk berekspresi.”

Wednesday, 25 November 2015

Dukungan besar pada acara pendaftaran Pelindung Anak


Ribuan orang telah mendaftar jadi Pelindung Anak, termasuk Menteri Yohana Yembise (kedua dari kiri) dan Duta Nasional UNICEF Indonesia Ferry Salim (kanan). ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang  berkumpul pada Hari Anak Sedunia 2015 untuk mencegah kekerasan terhadap anak dan menjadi Pelindung Anak.

Acara pendaftaran kampanye inovatif bertajuk Pelindung Anak ini dihadiri antara lain oleh Menteri, aktor, psikolog, serta model.

Tujuan kampanye ini adalah menciptakan sebuah gerakan untuk meningkatkan kesadaran tentang serta memulai aksi untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak.

Peserta diajak untuk mengunjungi website kampanye tersebut (www.pelindunganak.org), di mana mereka bisa mendapat informasi tentang kekerasan terhadap anak di Indonesia, dan berkomitmen untuk melindungi anak-anak di sekeliling mereka.

"Kekerasan terhadap anak adalah krisis tersembunyi di Indonesia. Ini hanya bisa dihentikan jika kita semua bergabung dan melindungi setiap anak seolah-olah mereka adalah anak kita sendiri," kata Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia, Gunilla Olsson. "Jika seluruh desa dibutuhkan untuk membesarkan seorang anak, maka seluruh desa juga dibutuhkan untuk melindungi seorang anak."

Sunday, 22 November 2015

U-Report Indonesia: Jumlah Pengguna Terus Meningkat

Oleh Vania Santoso – Innovation Lab Youth Engagement Officer
 
Ribuan siswa SMA menggunakan Twitter. ©UNICEF Indonesia/2015/Vania Santoso

"Siapa yang punya Twitter di sini? Ayo, angkat tangannya ke atas! "tanya pembawa acara saat sesi U-Report pada Bedah Kampus Universitas Indonesia Ke-16 (BKUI16). Hampir semua peserta mengangkat tangan mereka. Tidak mengherankan, karena Indonesia merupakan salah satu negara dengan angka pengguna Twitter tertinggi di dunia.

BKUI16 adalah acara open house selama dua hari bagi para siswa SMA untuk mengenal lebih banyak tentang Universitas Indonesia (UI). Lebih dari 16.000 siswa ikut serta dalam acara tersebut. Pengalaman-pengalaman bagi siswa meliputi Road Show ke Fakultas-Fakultas, transportasi umum UI yang terkenal, yaitu BiKun (Bis Kuning), dan Sesi Pleno dengan tokoh-tokoh seperti jurnalis ternama Najwa Shihab, ekonom dan politisi Faisal Basri, serta artis penyanyi Vadi Akbar.

Selama sesi khusus ini, para peserta belajar tentang U-Report Indonesia. U-Report merupakan sarana untuk mengirimkan pesan sosial yang dikembangkan oleh UNICEF, sehingga anak-anak muda dapat menyampaikan hak-hak anak dan isu-isu lainnya yang menjadi perhatian mereka. Informasi ini kemudian digunakan untuk melibatkan pemerintah dan mitra-mitra lainnya untuk melakukan perubahan praktis yang positif.  

Thursday, 22 October 2015

Krisis Gizi Kurang di NTT

Lukas menghadapi masa depan yang tidak pasti. ©RayendraThayeb/ACF

Lukas adalah anak usia dua tahun dari desa Oebola Dalam di NTT.  Anak ini berjuang untuk bermain, berjalan dan bahkan kadang-kadang berdiri. Lukas sangat lemah dan nampak kurus.

Seorang petugas kesehatan baru-baru ini mengukur lingkar lengan atas Lukas yang hanya 10,8 cm. Kenyataan ini menunjukkan bahwa ia menderita kekurangan gizi sangat kurus. Lukas sangat rentan terhadap penyakit dan bahkan kematian.

Ayah Lukas menjelaskan kondisi ekonomi keluarganya: "Kami hanya menanam dan menjual hasil dari kebun kami yang kecil. Dari hasil ini, kami memperoleh pendapatan kira-kira Rp 200.000 setiap bulan," katanya. "Oleh karena itu, saya hanya bisa memberikan makan dua kali sehari untuk keluarga saya."

Monday, 19 October 2015

Telpon genggam yang menyelamatkan kehidupan


Bidan Maena Nhur Desita memberikan vaksin. ©UNICEF Indonesia/2015

Kedoya Utara merupakan salah satu daerah miskin di Jakarta. Kedoya Utara berada di antara sederetan megamall dan gedung pencakar langit sehingga daerah ini harus berjuang dengan kondisi hidup seadanya, saluran air yang kotor dan listrik yang tidak memadai.

Salah satu yang menjadi perhatian khusus di Kedoya Utara adalah tingkat imunisasi anak-anak yang sangat rendah. Hal ini menyebabkan mereka beresiko menderita penyakit yang mengancam jiwa seperti campak dan difteri.

"Terjadi kesenjangan ketidakadilan di Jakarta dan seluruh Indonesia. Anak dari keluarga miskin, terutama mereka yang tinggal di daerah-daerah kumuh, tidak terjangkau secara tetap untuk menerima dosis vaksinasi lengkap," kata Spesialis Kesehatan UNICEF Indonesia Dr. Kenny Peetosutan.

Wednesday, 30 September 2015

Laporan global UNICEF: Kematian anak di Indonesia menurun drastis tapi masih banyak tantangan yang harus dihadapi

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer 

Sekitar 4,5 juta anak Indonesia berhasil diselamatkan sejak 1990. ©UNICEF Indonesia/2015

Laporan global UNICEF menggarisbawahi pencapaian gemilang Indonesia dalam mengurangi kematian anak.

Laporan berjudul Promise Renewed: 2015 Progress Report menyatakan bahwa tingkat kematian balita saat ini berada di angka 27 kematian per 1.000 kelahiran jika dibandingkan dengan 85 kematian per 1.000 kematian di tahun 1990.

Pada 1990, sebanyak 395.000 anak meninggal di Indonesia sebelum mencapai usia lima tahun. Angka itu menurun menjadi 147.000 pada 2015. “Angka ini masih mengejutkan, tapi hal ini juga berarti bahwa sekitar 4,5 juta anak akan meninggal dunia jika angka kematian masih sama dengan tingkat pada tahun 1990,” kata Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Gunilla Olsson.

Thursday, 10 September 2015

We Are Siblings Graduation: Inovator Muda Mengubah Kehidupan

By Vania Santoso – Innovation Lab Youth Engagement Officer

Upacara kelulusan We Are Siblings. ©UNICEF Indonesia/2015

"Dulu aku sudah berkali-kali hampir menyerah.Tapi sekarang aku bahagia karena tidak jadi melakukannya."

Kalimat sederhana yang diucapkan oleh Cynthia Andriani, anggota We Are Siblings, saat proyek percontohan (pilot project) mereka berakhir di Bogor ini membuatku meneteskan air mata. Cynthia telah merangkum jerih payah dan kesuksesan yang dirasakan bersama para inovator muda lainnya dalam beberapa bulan terakhir.

We Are Siblings adalah proyek mentoring tentang anti-bullying (perundungan) yang dikembangkan oleh mahasiswa Intitut Pertanian Bogor (IPB). Proyek ini memenangi Kompetisi Global Design for UNICEF Challenge pada awal tahun ini sehingga mendapatkan dana hibah 2.500 dolar Amerika dari UNICEF untuk mengimplementasikan inisiatif mereka.

Proyek ini diawali dari enam mentor We are Siblings yang mendampingi 29 anak untuk menemukan cara-cara inovatif dalam mengatasi perundungan, baik secara tatap muka maupun online. Sesi tatap muka melibatkan satu mentor yang langsung terjun mendampingi sekelompok anak melalui modul anti-penindasan; Sementara sesi online menjadi sarana pendukung, menjalin komunikasi sehari-hari lewat SMS dan aplikasi pengirim pesan lainnya.

Thursday, 3 September 2015

Memutus Lingkaran Kekerasan

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Senjata yang dibuat oleh Rama (15 tahun). ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Di pusat komunitas Sulawesi Selatan, Rama* (15) memperlihatkan sebuah koleksi anak panah bermata logam yang tajam. Remaja yang berbicara dengan lembut ini menjelaskan bagaimana dia membuat dan menjual anak-anak panah tersebut kepada teman-teman sebayanya. Mereka terbiasa dengan perkelahian antar kelompok yang terkadang terjadi di lingkungan tempat tinggal mereka. “Kekerasan ada dimana-mana,” ujarnya.

Kisah kehidupan rama sama dengan banyak anak muda di Indonesia. Dia tumbuh dan berkembang di tengah-tengah kekerasan-kekerasan orang tua, guru, teman. Ketika Rama memasuki masa remajanya, kekerasan bukan hanya hal yang maklum, tetapi sebuah rutinitas hidup.

“Saya mulai berkelahi di sekolah. Saya juga akan berkelahi di jalan,” ujarnya. Hal ini merupakan lereng terjal yang harus dilalui Rama. “Suatu hari paman saya memberi pisau badik. Lalu saya berkelahi dengan pisau dan saya tertikam,” ujar Rama sambil mengangkat kaus yang dipakainya dan menunjukkan bekas luka.

Tuesday, 25 August 2015

Masa Kecil yang Tercuri: Pengantin Anak di Sulawesi Barat

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

"Saya lebih senang menjadi pelajar dari pada ibu," kata Sari*, sambil menggendong anaknya. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker.

Desa-desa kecil yang tak terhitung jumlahnya memagari garis pantai Pulau Sulawesi. Deretan rumah panggung (rumah tradisional) berjajar di antara pantai-pantai nan indah dan hutan hijau membentang. Laksana taman firdaus. Tetapi pemandangan Indah ini sesungguhnya menyimpan krisis tersembunyi.

Sulawesi Barat memiliki tingkat perkawinan usia anak yang cukup mengkhawatirkan. Provinsi ini memiliki prevalensi terbesar anak perempuan yang menikah pada usia 15 tahun atau lebih muda di Indonesia. Karena berbagai alasan, seperti budaya, agama, ekonomi, masa kecil anak-anak perempuan hilang di daerah ini setiap harinya.

Ayu* adalah salah satu dari anak-anak perempuan tersebut. Perempuan belasan tahun yang bertutur-kata lembut ini tinggal di sebuah desa pertanian sepi yang disebut Amara*. "Ibu dan nenek saya keduanya menikah pada usia 14 tahun," katanya. Tradisi keluarga berjalan terus: "Saya berusia 15 tahun ketika saya menikah dengan suami saya, Ganes, yang berusia 23 tahun."

Friday, 14 August 2015

Perkawinan Anak Menjadi Perhatian Penting di AJI-UNICEF Media Awards 2015

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer


Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Gunilla Olsson menyapa para wartawan di AJI-UNICEF Media Awards 2015 ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker


JAKARTA, Indonesia, 13 Agustus 2015
– Prevalansi yang tinggi dan dampak negatif perkawinan usia anak di Indonesia menjadi fokus penting dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) and UNICEF Media Awards 2015 di Jakarta.

AJI-UNICEF Media Awards  diadakan setiap tahun sejak 2006 untuk menghargai keunggulan karya jurnalistik tentang isu hak-hak anak. Untuk tahun ini total 318 peserta mengirimkan cerita, foto, liputan TV dan radio.

Perkawinan usia anak dipilih menjadi fokus acara tahun ini. Hal ini relevan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi yang menolak perubahan isi undang-undang pernikahan Indonesia yang sudah ada — memperbolehkan anak perempuan untuk menikah pada usia 16 tahun, sedangkan anak laki-laki pada usia 19 tahun. Keputusan ini telah membuka dialog nasional seputar perkawinan usia anak.

Thursday, 13 August 2015

Mengenal Lebih Dekat Pendidikan Satap di Bondowoso


Program Satap adalah jenjang pendidikan SD-SMP dimana kegiatan belajar mengajar dilakukan dalam satu atap.

Oleh David Damanik, Telefundraiser UNICEF 


Manajemen Berbasis Sekolah dalam satu atap (Satap) merupakan program pemerintah yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang sudah dicanangkan sejak tahun 2005 dan merupakan program pemerintah dalam upaya mensukseskan wajib belajar 9 tahun.  Program satap adalah jenjang pendidikan SD-SMP dimana kegiatan belajar mengajar dilakukan dalam satu  atap ( lokasi ) dengan tujuan memberi kesempatan dan mempermudah anak – anak untuk mendapatkan pendidikan yang lebih layak sampai jenjang SMP.

Kesempatan kali ini saya akan berbagi kisah “field trip Unicef ke Bondowoso “dengan melihat langsung (observasi) salah satu program pendidikan yang sedang dilaksanakan Unicef yaitu Program Satap Bondowoso tgl 25-26 Mei 2015.

Tuesday, 11 August 2015

UNICEF dan Pemerintah Indonesia Meluncurkan Kampanye Anti-Kekerasan, #PelindungAnak

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer 


BOGOR, Indonesia, 11 Agustus 2015 – Bersamaan dengan puncak perayaan Hari Anak Nasional di Istana Bogor, UNICEF dan Pemerintah Indonesia meluncurkan kampanye inovatif baru untuk menghentikan kekerasan terhadap anak.

Kampanye Pelindung Anak mengajak semua masyarakat Indonesia — dari segala umur, lokasi dan profesi — untuk mendukung langkah nasional dalam mencegah perlakuan salah terhadap anak.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise, memperkenalkan iklan layanan masyarakat Pelindung Anak kepada Presiden Joko Widodo, anggota kabinet dan ratusan anak-anak dari berbagai daerah dalam rangkaian acara puncak Hari Anak Nasional 2015 di Bogor.

Pesan Untuk Indonesia: Sudah Dong

Lauren Rumble, Kepala Perlindungan Anak UNICEF Indonesia


Salah satu bagian terbaik dari pekerjaan saya di UNICEF Indonesia adalah bekerja dengan anak muda Indonesia. Saya beruntung untuk bisa bertemu dengan pemuda-pemuda yang berdedikasi, kreatif dan inspiratif—banyak yang betul-betul membawa perubahan di dalam komunitas mereka sendiri.

Belum lama ini saya bertemu dengan tim Sudah Dong, sebuah organisasi nirlaba yang dijalankan oleh anak muda, untuk anak muda dan fokus pada banyak upaya menangani masalah bullying.

Sudah Dong bertujuan untuk memobilisasi aksi damai dan dukungan rekan sebaya dalam mengakhiri bullying. Pada bulan Juni, Sudah Dong merilis buku manual untuk anak dan remaja pertamanya dengan judul “End Bullying,” yang diharapkan dapat tersebar ke satu juta anak di seluruh nusantara. Dalam dua minggu, 625 buku telah diungguh (anda bisa ungguh buku manual di sini)

Dirilisnya buku manual ini tepat pada waktunya: Indonesia adalah negara dengan tingkat kekerasan fisik terhadap siswa yang tertinggi di dunia (40 persen). Lebih dari 50 persen siswa telah mengalami bullying di sekolah. Sekolah, wadah belajar dan perlindungan, untuk banyak siswa, adalah tempat paling aman yang mereka punya.

Wednesday, 5 August 2015

U-Reporter Angkat Suara Untuk Kekerasan Terhadap Anak

Awis Mranani, UNICEF Indonesia Innovation Lab

Jutaan anak muda Indonesia adalah korban kekerasan. ©UNICEF Indonesia/2014

Hasil telah diterima. UNICEF baru saja menyelesaikan survei besar pertamanya menggunakan sistem pengumpulan suara U-Report Indonesia. Anak muda dari seluruh penjuru Indonesia menyampaikan pandangan mereka terhadap topik yang masih dianggap tabu, yaitu kekerasan terhadap anak.

Lebih dari 4,000 peserta, atau U-Reporter, berpartisipasi dalam survei berbasis Twitter ini. Pertanyaan yang dilayangkan terfokus pada strategi terdahulu pemerintah dalam menanggapi masalah kekerasan terhadap anak. Penemuan survei ini akan dipakai sebagai bahan masukan bagi pembaharuan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Anak (RAN PPKTA) untuk tahun 2015-2019.

Jawaban yang diberikan oleh pemuda Indonesia sangat penting. Mereka menegaskan bahwa pemerintah perlu menjalankan program-programnya secara lebih strategis lagi untuk menjaga keamanan anak-anak dari kekerasan. Hal ini bisa dilaksanakan melalui peningkatan kesadaran publik, kegiatan mendidik (terutama terkait undang-undang dan kebijakan) dan keterlibatan komunitas dalam topic terkait, terutama dari anak muda.

Secara kuantitatif, survei menyimpulkan bahwa selama tiga tahun terakhir, kebanyakan anak muda berumur 13-24 tahun yang telah menjadi korban kekerasan tidak menerima bimbingan terkait kekerasan dan 15 persen dari mereka tidak tahu kemana harus melaporkan kekerasan yang mereka saksikan atau alami sendiri.

Tuesday, 7 July 2015

Dukungan melawan bullying

Tim We Are Siblings menggunakan cara-cara yang inovatif pada lokakarya anti-bullying yang mereka selenggarakan. ©UNICEF Indonesia/2015/Vania Santoso

Secara mengejutkan 50 persen dari siswa berusia 13-15 tahun di Indonesia melaporkan bahwa mereka pernah menjadi korban bullying di sekolah. Angka ini merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Anak-anak ini dapat mengalami bekas luka emosional yang dalam seumur hidupnya. Hal ini mendorong sekelompok mahasiswa untuk memutuskan bahwa sudah saatnya untuk bertindak.

Tahun lalu, lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) mengikuti kompetisi Desain Global untuk Tantangan UNICEF dengan kegiatan yang difokuskan untuk mengatasi bullying di Indonesia. Kompetisi ini mengundang anak-anak muda di seluruh dunia untuk mengatasi isu-isu lokal yang mendesak dengan memberikan solusi yang inovatif.

Para mahasiswa ini memiliki nasib yang sangat mirip dekat dengan subjek mereka. Salah satu anggota tim Aldila Setiawati pernah mengalami bullying yang parah semasa bersekolah. "Untungnya saya memiliki keluarga yang mendukung saya. Namun saya sering berpikir, bagaimana dengan anak-anak yang tidak mendapat dukungan?" ujarnya.

Wednesday, 10 June 2015

Pendidikan Anak Usia Dini: Peluang yang adil bagi semua

Sun Wook Jung, Education Officer

Bersama para guru Pos PAUD Puspa Hati, Surabaya. ©UNICEF Indonesia/2015.

Saya adalah seorang 'drop-out' dari TK saya di Korea beberapa tahun yang lalu. Saya sering berkelahi dengan murid-murid laki-laki hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah. Tetapi prestasi sekolah saya cukup bagus, sehingga saya jadi meremehkan manfaat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Namun, saya sadar sekarang bahwa saya sangat beruntung memiliki seorang ibu yang sering membacakan buku dan mengajari saya bagaimana cara menghitung. Jadi, meskipun saya keluar dari TK, saya tetap mendapatkan pendidikan anak usia dini di rumah. Hal ini belum tentu terjadi bagi banyak anak-anak di seluruh dunia, terutama mereka yang berasal dari keluarga marginal dan miskin di Indonesia.

Tuesday, 9 June 2015

Remaja Indonesia bersiap menghadapi bencana (dengan cara yang kreatif)

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Siswa SMP pada Lokakarya uji coba Paket untuk Remaja Berekspresi dan Berinovasi. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker. 

Sebuah ruang kelas di daerah Jakarta Timur riuh dengan kegiatan. Sekitar 20 remaja merangkai berbagai kata, bentuk dan pola pada secarik kertas putih berukuran besar. Suasananya begitu hidup, namun topiknya tidak main-main: banjir dahsyat yang akan datang.

 Jakarta terkenal karena banjir musimannya yang parah. Dan wilayah di bagian timur Jakarta sering menanggung beban ini setiap musim hujan. Sebagian besar remaja yang mengikuti lokakarya ini memilki koleksi cerita yang memilukan tentang banjir. Beberapa bahkan memiliki pengalaman yang nyaris merenggut nyawa mereka.

“Saya mengalami banjir yang sangat parah pada tahun 2007,” cerita Vicka, peserta yang berusia 14 tahun, “Waktu itu sekitar pukul dua pagi ketika banjir datang. Sebentar saja air sudah mencapai langit-langit rumah. Suasana gelap gulita dan seluruh keluarga saya sangat ketakutan.”

“Ayah saya menenangkan kami semua dan membawa kami ke atap rumah untuk mencari pertolongan. Akhirnya perahu penyelamat datang. Kami harus lompat ke perahu dari atap rumah. Saya sangat takut, namun beruntung kami semua baik-baik saja. Bagian yang paling mencemaskan adalah ibu saya sedang mengandung pada saat itu. Akhirnya dia melahirkan adik perempuan saya keesokan harinya.”

Paket Remaja untuk Berekspresi dan Berinovasi sedang diujicobakan di Indonesia dan di Sudan Selatan. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker.

Thursday, 4 June 2015

Hari ini pelajar, esok pengantin

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer


Anak-anak perempuan di Desa Manggaru* beresiko menikah pada usia muda. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker.

Nira* yang baru berusia 14 tahun adalah pelajar yang cemerlang. Ia selalu rajin belajar dan unggul dalam berbagai mata pelajaran, mulai dari kesenian, ilmu pengetahuan alam, hingga ilmu pengetahuan sosial. Namun, masa-masa Nira sebagai pelajar akan segera berakhir. Besok adalah hari pernikahannya.

Nira tinggal di Desa Manggaru, sebuah desa kecil yang berada sekitar 70 km dari Jakarta. Pernikahan anak merupakan hal biasa di desa ini. Bahkan, Nira adalah siswi ketiga yang akan keluar dari bangku sekolah dan menikah tahun ini.

“Aku suka bermain petak umpet,” ucap Nira, saat diminta mendeskripsikan dirinya. Ia tampak yakin dengan keputusannya untuk menikah. “Kalau aku menunggu sampai lulus baru menikah, belum tentu aku bisa dapat pasangan. Terlalu lama buat dia (calon suami) untuk menunggu,” ujarnya.

Monday, 1 June 2015

Kisah Safira dan Ali: Dua anak tanpa orang tua yang saling menjaga

Oleh: Kinanti Pinta Karana

Safira, 8, di penampungan sementara pengungsi Rohingya Myanmar di Kuala Cangkoy, Aceh Utara. Ia adalah satu dari 345 anak-anak tanpa pendampingan orang tua yang ikut dalam rombongan pengungsi yang tiba di Aceh pada 10 Mei 2015. ©UNICEFIndonesia/2015/Kinanti Pinta Karana. 

Kuala Cangkoy, Provinsi Aceh - Hamparan lapangan yang ditumbuhi rumput kering menyambut saya di pelabuhan ikan di Kuala Cangkoy, dimana 576 orang pengungsi Rohingya Myanmar ditampung untuk sementara setelah diselamatkan dari sebuah kapal yang juga membawa kelompok migran dari Bangladesh di perairan Aceh pada 10 Mei. Selain tenda dan beberapa bangunan berukuran sedang, sekelompok sapi tampak sedang merumput dan beberapa di antaranya mengais tumpukan sampah berusaha mencari sesuatu untuk dimakan.

Saya menuju sebuah pendopo yang dialihfungsikan menjadi ruang tidur untuk pengungsi pria, saya harus berjalan dengan hati-hati agar tidak menginjak kotoran sapi. Pendopo itu sepi karena para penghuninya sedang mempersiapkan ibadah shalat Jumat. Lalu saya mendengar suara tawa anak-anak. Saya berputar dan melihat seorang anak perempuan sedang meletakkan biskuit di wajah anak lelaki yang tertidur di sampingnya.

Anak perempuan itu bernama Safira (nama-nama dalam cerita ini telah diubah). Dia berumur delapan tahun dan berada jauh dari kehidupan yang selayaknya ia miliki. Anak lelaki itu adalah kakaknya, Ali. Usianya 10 tahun.

Thursday, 28 May 2015

Kisah tiga saudari dari Rohingya: Meninggalkan Kampung Halaman Demi Masa Depan Yang Lebih Baik

Oleh Kinanti Pinta Karana 

Dari kiri ke kanan: Seemal*, 13; Alma*, 14 dan Mira*, 15. Ketiga saudari dari etnis Rohingya Myanmar ini dikirim oleh orang tua mereka dengan kapal untuk menyelamatkan mereka dari pemerkosaan dan bentuk-bentuk ketidakadilan lainnya di negara asal mereka. Mereka saat ini tinggal di penampungan sementara di Kuala Langsa, Aceh Timur. (© UNICEF Indonesia / 2015 / Kinanti Pinta Karana)

Langsa, INDONESIA, 25 Mei 2015 – Hari mulai beranjak siang ketika saya akhirnya tiba di area pelabuhan Kuala Langsa, Aceh, yang menjadi penampungan sementara bagi pengungsi dan migran dari Myanmar serta Bangladesh. Dalam periode antara tanggal 10 hingga 20 Mei, sebanyak 1,829 orang berlabuh di pesisir Aceh dan Sumatera Utara. Di antara mereka terdapat 599 anak-anak, termasuk 345 orang anak yang tidak didampingi orang tua.

Mereka menempuh perjalanan yang berat dari Negara masing-masing,  sebagian diantaranya melarikan diri dari tekanan dan ketidakadilan, sedangkan sebagian lain karena ingin bangkit dari kemiskinan. Banyak dari mereka yang hingga saat ini masih terombang-ambing di laut.

Ketika saya melangkah masuk ke barak perempuan dan anak-anak, saya melihat tiga orang gadis remaja duduk berdekatan di salah satu sudut ruangan. Saya tersenyum pada mereka dan mereka dengan malu-malu  membalas senyuman saya. Belakangan baru saya menyadari betapa luar biasanya senyum itu, jika mengingat perjalanan berat yang harus mereka tempuh di laut.

“Nama saya Mira*, umur saya 15 tahun. Ini adik saya Alma* yang berusia 14 dan Seemal*. Dia 13 tahun,” kata gadis yang tertua.

Wednesday, 20 May 2015

Peraturan Baru, Harapan Besar: Peradilan Pidana Anak di Makassar

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Akmal berada di sekolah, bukan di sel penjara Makassar ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Akmal* yang berusia 14 tahun duduk di koridor kantor pemerintah yang besar di Makassar. Dia tampak gugup – memainkan ritsleting ranselnya, terus-menerus membenarkan seragam sekolahnya. Ini bisa dimengerti mengingat lingkungan di sekitarnya. “Aku baik-baik saja,” katanya lirih. “Ini lebih baik daripada penjara.”

Beberapa bulan yang lalu, Akmal sedang berjalan-jalan dengan seorang temannya. Temannya memutuskan untuk membuktikan keberaniannya dengan mencuri tabung gas dari toko terdekat. Ternyata yang terjadi tidak berjalan sesuai rencana dan kedua anak ini ditangkap oleh polisi.

Sebuah hukuman penjara untuk kejahatan kecil sudah menjadi hal yang biasa di Indonesia. Meskipun Akmal tidak terlibat langsung dalam pencurian tabung gas tersebut, tahanan di penjara adalah hal yang biasanya harus dijalani. Namun begitu, berkat hukum sistem peradilan pidana anak baru yang mulai berlaku sejak Agustus 2014, kisah Akmal dapat menjadi sangat berbeda.

Monday, 18 May 2015

Dampak positif konseling psikososial UNICEF melalui radio di Nepal


Chiranjibi Adhikari bersama anaknya, Kritagya (6) di salah satu tenda medis UNICEF. Mereka sedang berbicara dengan seorang konselor psikososial melalui program radio Bhandai Sundai yang didukung oleh UNICEF. ©UNICEF/2015/Panday.

Dhadingbesi, Nepal – Chiranjibi Adhikari belum pernah melihat Kritagya, anaknya yang berusia 6 tahun, begitu gelisah.

"Dia selalu mencari perhatian," kata sang ayah berusia 45 tahun ini. "Sebelumnya dia tidak seperti ini."

Menurutnya, Kritagya telah mengalami trauma sejak gempa dengan skala 7,8 Richter melanda Nepal pada tanggal 25 April 2015.

"Saya tidak tahu bagaimana mengontrol anak saya," kata Chiranjibi. "Dia sangat mudah panik dan saya tidak bisa menenangkannya.”

Friday, 15 May 2015

Kisah Sulaeha: Menyelamatkan nyawa di Sumenep

Sulaeha adalah seorang ibu dari tiga anak yang berasal dari Sumenep, Jawa Timur. Sejak dulu, Ia selalu peduli akan kesejahteraan keluarga dan warga di lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, Sulaeha memutuskan untuk menjadi relawan di bidang kesehatan.

“Hanya karena saya bukan petugas kesehatan yang terlatih, bukan berarti saya tidak bisa membantu memperbaiki kesehatan anak-anak di lingkungan saya,” kata Sulaeha. “Paling tidak saya bisa bantu menyambungkan fakta-fakta kesehatan penting dengan ajaran agama.”

Sulaeha adalah anak dari seorang tokoh agama yang dihormati dan anggota aktif Fatayat, sub-unit perempuan dari Nadhlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di dunia dengan sekitar 80 juta anggota. Oleh karena itu, ia memiliki pengetahuan yang luas mengenai agama Islam.


Sulaeha sering mengadakan lokakarya kesehatan di masjid dekat rumahnya. ©UNICEF Indonesia/2015

Peran Sulaeha sebagai relawan adalah untuk meyakinkan orang tua bahwa imunisasi bukan hanya penting bagi anak mereka, tapi juga sesuai dengan ajaran agama Islam. Hal ini sangat penting di daerah-daerah seperti Sumenep, di mana mayoritas penduduk adalah pemeluk agama Islam.

Tuesday, 12 May 2015

Mengintip program UNICEF di Ternate & Tidore

Winda - UNICEF Indonesia Fundraiser

Ternate, kota yang terletak di ujung barat Sulawesi ini memiliki berbagai macam hal yang dapat membuat kita berdecak kagum, baik dari keindahan alamnya, makanan khasnya, penduduknya dan masih banyak hal lainnya yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Kota Ternate adalah sebuah kota kecil yang berada di bawah kaki gunung api Gamalama di Provinsi Maluku Utara, memiliki luas sekitar 547.736 Km2 kota Ternate sudah menjadi kota otonom semenjak 4 Agustus 2010 sedangkan  Kota Tidore memiliki luas wilayah 9.564,7 km² dan berpenduduk sebanyak 98.025 jiwa.

Dibalik keindahan alam dan kekayaan sumber daya alamnya yang luar biasa, kota ini menyimpan sebuah masalah pelik yang sudah terjadi dalam waktu yang cukup lama. Salah satu masalah yang cukup serius dari kota Ternate & Tidore adalah masalah kesehatan, kurangnya pengetahuan umum mengenai pentingnya kesehatan dan kurangnya sarana dan prasarana yang memadai menjadi sumber masalah yang terjadi di kota ini. Oleh karena itu UNICEF dan pemerintah setempat bekerja sama untuk mengatasi masalah ini dengan bersama-sama membangun Puskesmas-Puskesmas yang didanai oleh UNICEF dibantu oleh pemerintah setempat.



Pada tanggal 18 – 20 Maret lalu kami perwakilan dari UNICEF berkesempatan untuk mengunjungi beberapa Puskesmas yang dibangun UNICEF bersama pemerintah setempat. Puskesmas pertama yang kami kunjungi adalah Puskesmas Rawat Jalan Rum Balibunga (Tidore) yang didirikan pada tanggal 20 Januari 2014. Menurut data yang kami kumpulkan di Puskesmas ini umur pernikahan yang sering terjadi di Tidore adalah pada umur 15 -18 tahun, selama tahun 2014 lalu ada 18 kasus ibu muda, yang semestinya 1 : 1000 pada tempat dengan 8.000 penduduk hanya ada 8 kasus ibu muda.

Tuesday, 28 April 2015

Gempa di Nepal: 5 hal yang perlu kamu ketahui

Beberapa hari ini sangat memilukan untuk anak-anak di Nepal dan hampir tiga juta anak membutuhkan bantuan kemanusiaan yang mendesak setelah gempa bumi. Berikut lima hal yang kamu perlu tahu tentang bencana ini:

1. Gempa terbesar dalam 81 tahun


© UNICEF/NYHQ2015-1040/Nybo
Gempa berkekuatan 7,8 Richter ini adalah gempa terburuk yang dialami Nepal selama lebih dari 80 tahun terakhir. Lebih dari 60 gempa susulan terjadi, salah satunya mencapai skala 6,7 Richter.

Saturday, 25 April 2015

Malaria pada Kehamilan: Apa artinya bagi kehidupan anak-anak kita

Oleh Maria Endang Sumiwi – Health Specialist Malaria

Dr Jeanne Rini Poespoprodjo, SpA, Msc, PhD adalah dokter anak di Rumah Sakit Umum Daerah Mimika (Papua, Indonesia), konsultan kesehatan ibu dan anak untuk UNICEF dan WHO Indonesia serta Dinas Kesehatan di Papua, Indonesia, serta peneliti malaria di Fasilitas Riset Timika bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan Menzies School of Health Research, Darwin.

Indonesia sedang berperang melawan malaria dan sejauh ini sudah terlihat sejumlah kemajuan yang menjanjikan. Penyakit itu secara berangsur mulai lenyap di sejumlah daerah. Namun di banyak daerah dengan tingkat penularan yang tinggi, beban karena malaria masih dirasakan. Provinsi-provinsi di kawasan timur Indonesia merupakan daerah dengan penularan malaria yang tertinggi. Di kabupaten dengan situasi malaria yang terburuk, satu dari tiga orang terserang malaria sekali dalam satu tahun.

Ibu hamil terutama sangat rentan terhadap malaria. Mereka memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi malaria dan menderita malaria berat jika dibandingkan dengan mereka yang tidak hamil.

Lantas, apa arti hal itu bagi kehidupan anak-anak kita? UNICEF menghadirkan perspektif seorang dokter yang sehari-hari berhadapan dengan malaria. Dr. Jeanne Rini Poespoprodjo adalah seorang dokter anak yang sudah 15 tahun bekerja di Papua.

Bersama Laskar Jentik, lingkunganku bebas jentik

By Ermi Ndoen – Health Officer, Kupang Field Office

Para Laskar Jentik – Agen Perubahan,  bermimpi tentang Sikka  bebas penyakit malaria di Pantai Waiara, Sea World Hotel, Maumere Sikka. © UNICEF Indonesia / 2014 / Ermi

Tidak semua “jentik” merupakan penyebab penyakit berbasis nyamuk, karena di Sikka, NTT, ada pasukan yang menamakan diri mereka Laskar Jentik. 

Laskar Jentik adalah sebutan bagi anak-anak sekolah yang menjadi pasukan pemantau jentik dan merupakan salah satu program pemberantasan penyakit malaria berbasis masyarakat sekolah yang didukung oleh UNICEF di Provinsi NTT. 

Friday, 24 April 2015

“Senyum” untuk imunisasi

Nur Awwalia dan Wall of Fame Imunisasi. ©UNICEF Indonesia/2015 

Tembok Puskesmas Tanah Merah Bangkalan di Pulau Madura, Jawa Timur, penuh dengan poster-poster yang umum ditemui di sebuah klinik kesehatan. Tapi ada satu yang menonjol yaitu sebuah papan tulis putih sarat dengan foto-foto 25 bayi yang sedang tersenyum.

Bayi-bayi ini membentuk wadah pameran “Wall of Fame Imunisasi” di Puskesmas. Setiap bayi sudah menyelesaikan lima sesi imunisasi rutin gratis mereka, yang memberikan keamanan dari berbagai penyakit seperti difteri, TBC, hepatitis B, tetanus, polio dan campak.

Seorang bidan di puskesmas itu, Nur Awwalia, baru-baru ini memiliki ide untuk membuat poster tersebut. “Setiap orang tua senang memamerkan bayi mereka. Jadi kenapa tidak menggunakannya untuk mempromosikan imunisasi!” kata Nur.

Monday, 30 March 2015

Sanitasi di Sumba – membaik hari demi hari

- Nick Baker, Communications and Knowledge Management Officer

Sanitarian Dangga Mesa menghadiri sebuah rapat desa di Sumba Barat Daya.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Ini adalah pagi yang luar biasa sibuk di desa Matapywu di pulau Sumba (NTT). Semua kepala keluarga telah diajak berkumpul untuk sebuah pertemuan penting. Kursi-kursi diduduki, kopi disajikan, dan topik pertemuan pun diumumkan: toilet.

Pertemuan tentang topik yang tidak biasa ini sekarang cukup umum di sekitar pulau tersebut. Matapywu hanyalah satu dari banyak desa yang baru-baru ini menjalani sesi pemicuan yang didukung oleh UNICEF. Lokakarya ini bertujuan untuk mengakhiri praktik buang air besar sembarangan.

Sekarang adalah saatnya untuk mengecek perkembangan. Seorang sanitarian, Dangga Mesa, membahas kemajuan sejak ia mengadakan sesi pemicuan beberapa bulan yang lalu. Dangga tampak senang dengan hasilnya.

Wednesday, 18 March 2015

Membangun kembali dengan lebih baik untuk masa depan yang lebih aman

Simon Nazer, Communication Consultant for UNICEF East Asia and Pacific

Latihan gempa di SDN Muhammadiyah 1 Banda Aceh.
© UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

Rekan-rekan UNICEF dan lembaga-lembaga internasional kini sedang memobilisasi bantuan untuk korban Topan Pam di Vanuatu. Ini adalah pengingat betapa rentannya Negara-negara di wilayah ini terhadap bencana alam, betapa pentingnya persiapan untuk menghadapi bahaya yang bisa terjadi.

Untuk mengetahui tentang pekerjaan UNICEF dalam mengurangi dampak bencana, beberapa hari yang lalu saya berbicara dengan rekan-rekan di Indonesia dan Kiribati, beberapa daerah yang paling rawan bencana di dunia.


Tuesday, 17 March 2015

Kisah U-Report Indonesia sejauh ini

– Nick Baker, Communications and Knowledge Management Officer –

Kampanye Give Voice to the Voiceless telah meningkatkan minat pada U-Report Indonesia
©UNICEF Indonesia/2015

Bagaimana seandainya jika kita bisa bertanya kepada 67 juta orang muda tentang apa yang penting bagi mereka? UNICEF Indonesia tertarik untuk mencari tahu.

Pada tahun 2014, UNICEF Indonesia merintis U-Report Indonesia, sebuah platform baru untuk mendorong 67 juta pemuda di negara ini untuk membuat suara mereka terdengar pada isu-isu utama pembangunan.

U-Report Indonesia adalah sistem polling berbasis Twitter yang bertanya kepada orang-orang muda tentang berbagai topik penting, mulai dari pendidikan, gizi, pernikahan anak, hingga bullying.

Tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dianalisa oleh UNICEF Indonesia. Informasi ini kemudian akan diteruskan kepada pemerintah, mitra pembangunan dan masyarakat sipil sebagai cara membina partisipasi remaja dan pemuda.


Wednesday, 11 March 2015

Masa depan yang lebih baik – mengakhiri buang air besar sembarangan di Sumba

- Nick Baker, Communications and Knowledge Management Officer -

Juan, 1 tahun, di depan toilet barunya. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Sumba Barat Daya, Maret 2015 – Juan Ngongo, usia satu tahun, adalah orang pertama di keluarganya yang akan tumbuh besar dengan akses toilet.

Juan tinggal di Desa Watu Kaula, Pulau Sumba (NTT). Selama beberapa generasi, keluarganya buang air besar di sekitar sungai di belakang rumah mereka.

Namun kini sudah tidak lagi. Keluarga Juan belum lama ini menghadiri sebuah sesi pemicuan yang difasilitasi oleh UNICEF di desa mereka. Pada sesi ini, petugas kesehatan menunjukkan bagaimana mudahnya bakteri dari kotoran manusia bisa memasuki rantai makanan dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Termasuk dalam masalah kesehatan ini adalah diare dan pneumonia, yang merupakan kontributor utama dari 370 kematian balita Indonesia setiap harinya.

Tuesday, 3 March 2015

Marta Santos Pais menghimbau Indonesia untuk menjadi juara dalam mengakhiri kekerasan terhadap anak

- Devi Asmarani -

Marta Santos Pais (baris dua, kelima dari kanan) bersama representatif beberapa lembaga pemuda di Indonesia.

Jakarta, 3 Maret 2015 - Wakil Khusus Sekretaris Jenderal PBB tentang Kekerasan terhadap Anak, Marta Santos Pais, mendesak Indonesia untuk mengambil peran utama dalam mengakhiri kekerasan terhadap anak di wilayahnya.

Selama berkunjung ke Jakarta pada tanggal 23-28 Februari, Ibu Marta mengamati bahwa negara ini telah mengambil langkah-langkah yang cukup untuk mencegah dan menghilangkan kekerasan terhadap anak. Namun, masih banyak yang perlu dilakukan untuk membuat upaya tersebut lebih efektif, ucapnya setelah bertemu dengan beberapa Menteri, anggota parlemen, perwakilan masyarakat sipil, UNICEF dan badan PBB lainnya.

"Melalui kunjungan ini saya merasa bahwa Indonesia sudah siap untuk langkah berikutnya. Dalam pertemuan saya dengan berbagai pejabat pemerintah, saya merasakan kemauan yang sangat kuat untuk mengatasi masalah ini."

Monday, 23 February 2015

Uni Eropa dan UNICEF bekerja sama untuk meningkatkan gizi ibu dan anak di Papua

- Devi Asmarani

Tina Hiluka dari Desa Muliama di Jayawijaya, Papua, bersama bayinya. Tidak seperti keempat anak sebelumnya, Tina melahirkan bayinya di sebuah Puskesmas dengan bantuan seorang bidan setelah satu minggu di rumah tunggu bersalin. ©UNICEFIndonesia/2015/Devi Asmarani  

Ketika Tina Hiluka dari Desa Muliama, Papua, melahirkan anak bungsunya tahun lalu, pengalamannya sangat berbeda dengan ketika ia melahirkan keempat anak-anak lainnya.

Kali ini ia melahirkan di sebuah Puskesmas dengan bantuan seorang bidan terlatih, bukan di rumahnya sendiri dengan hanya ditemani anggota keluarganya.

"Mereka memberi saya minum ketika haus, dan juga makanan ketika saya lapar," kata Tina dalam dialek setempat. "Di rumah, tidak ada yang benar-benar bisa merawat saya seperti itu."

Friday, 13 February 2015

Tidak ada kemajuan dalam memerangi kurang gizi di Indonesia

Nick Baker, Communications & Knowledge Officer

Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Gunilla Olsson berdiskusi tentang Global Nutrition Report 2014.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Indonesia telah mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir ini, baik dari segi ekonomi, politik maupun teknologi, namun ada satu hal yang tidak berubah: kurang gizi.

Menurut Global Nutrition Report (GNR) 2014 yang diluncurkan Pemerintah bersama UNICEF dan mitra lainnya pada hari Senin (9/02/2015), Indonesia hampir tidak mengalami kemajuan sama sekali dalam menurunkan tingkat kurang gizi anak sejak tahun 2007. Laporan ini menilai berbagai pencapaian di bidang gizi oleh 193 negara anggota PBB.

GNR 2014 menemukan bahwa 37 persen anak Indonesia di bawah usia lima tahun menderita stunting, yaitu pertumbuhan fisik yang lebih pendek untuk usia mereka. Anak dari keluarga miskin di Indonesia memiliki kemungkinan terkena stunting 50 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang berada pada tingkat ekonomi lebih tinggi. Namun 30 persen anak-anak dari keluarga yang berada juga terdampak oleh stunting.

Tuesday, 10 February 2015

Kemakmuran Indonesia bergantung pada upaya peningkatan perbaikan gizi

Anak-anak dari sebuah desa adat di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.
©UNICEFIndonesia/2014/Hasan

Ada anggapan umum di Indonesia bahwa kebanyakan orang Indonesia bertubuh pendek disebabkan oleh faktor keturunan. Karena anggota keluarga dari generasi sebelumnya bertubuh pendek dan kecil, banyak orang beranggapan bahwa perawakan tinggi seseorang adalah faktor genetik diluar kendali kita.

Namun kajian ilmiah menemukan bahwa anggapan tersebut seringkali tidak benar. Ibu hamil yang bertubuh pendek dan kurus akan melahirkan bayi berukuran kecil dan kurang gizi, selanjutnya pertumbuhannya juga lambat karena mereka tidak bisa mengkonsumsi cukup makanan bergizi atau karena seringkali terjangkit diare atau penyakit menular lainnya. Anak ini akan tumbuh menjadi remaja perempuan dan kemudian menjadi ibu hamil bertubuh pendek dan kurus, menyebabkan siklus kurang gizi (malnutrisi) antar generasi terus berlanjut.

Wednesday, 4 February 2015

Sejuta harapan anak-anak Brebes

Firman Siregar - UNICEF Indonesia Telefundraiser

Ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Brebes, kota yang terkenal sebagai penghasil telur asin dan bawang terbesar di pulau Jawa. Kesempatan untuk melihat program-program UNICEF di kota ini diberikan oleh UNICEF Indonesia kepada kami berempat (Firman, Fajar, Lina, Nurul) untuk mewakili Divisi Telefundraising.

Kunjungan pertama kami di kota Brebes yaitu kantor BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) untuk berdialog bersama Bapak Khaerul Abidin selaku Kabid Pemsosbud BAPPEDA Brebes, Forum Anak, Forum Pendamping Anak, serta KLA (Kabupaten Layak Anak). 

Dalam dialog ini, seorang perwakilan dari Forum Anak Brebes (Fanbes) memaparkan kegiatan yang telah dilakukan selama 2 tahun belakangan ini, antara lain sosialisasi forum anak, latihan dasar kepemimpinan, advokasi tentang sekolah ramah anak, mensosialisasikan pentingnya akte kelahiran di Desa Plompong secara door to door, dan masih banyak lagi. Tujuan secara garis besar dibentuknya Forum Anak yaitu untuk menjadikan Brebes sebagai Kabupaten Layak Anak.

Thursday, 29 January 2015

Empat tim Indonesia menjadi finalis Global Design for UNICEF Challenge

JAKARTA, 29 Januari 2015 - Sebuah layanan SMS untuk mempermudah evakuasi bencana. Sebuah aplikasi untuk mendorong kedekatan masyarakat. Sebuah kampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang kekerasan anak. Sebuah detektor gas yang bisa memantau tinja.

Ini adalah empat ide-ide inovatif yang dikembangkan oleh mahasiswa Indonesia yang lolos ke babak final Global Design for UNICEF Challenge 2014.

Proyek-proyek finalis Global Design for UNICEF Challenge 2014 dari Indonesia. ©UNICEFIndonesia/2015


Global Design for UNICEF Challenge adalah sebuah kompetisi online untuk menggerakkan kolaborasi dan pemecahan masalah-masalah internasional dalam kapasitas lokal.

Lebih dari 130 mahasiswa Indonesia dari dua universitas mitra UNICEF: ITB Bandung dan IPB Bogor bergabung dalam 33 tim dan mengajukan ide-ide untuk kompetisi tersebut. Mereka yang lolos ke babak final kini mewakili empat dari total lima finalis.

Friday, 16 January 2015

Rekam jejak UNICEF di Kabupaten Sikka

Liani Dyah Utami - UNICEF Indonesia Fundraiser

Tiga bulan yang lalu, tepatnya tanggal 17-18 September 2014, saya bersama tim berkesempatan mengunjungi Kabupaten Sikka di Maumere, Flores – Nusa Tenggara Timur untuk melihat secara langsung kegiatan UNICEF di lapangan. 

Hari pertama kami mengunjungi Dinas Kesehatan dan Bappeda setempat. Disana kami diterima oleh wakil kepala Dinkes. Selain untuk silaturahmi, kami juga berdiskusi sebentar tentang kerjasama UNICEF dan pemerintah daerah terutama dibidang kesehatan yaitu dalam program PKH (Program Keluarga Harapan) dan PGBM (Pemulihan Gizi Berbasis Masyarakat). Kami juga meminta izin untuk dapat mengunjungi desa-desa yang ada di Kabupaten Sikka.

Didampingi oleh Bapak Riki, petugas dari Bappeda dan Ibu Etna, salah satu kader PKH kami mengunjungi Desa Pilang di Kecamatan Nita. Sesampainya di Desa Pilang kami disambut dengan hangat oleh ibu-ibu yang ada disana. Kami berdiskusi dan melihat langsung sudah sejauh mana pencapaian program PKH di Desa Pilang.

Wednesday, 14 January 2015

Sebuah topik yang tidak nyaman

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Jakarta, 14 Januari 2015 - Konferensi pers pertama saya di UNICEF Indonesia adalah salah satu yang tidak bisa segera terlupakan bagi saya. Mengapa? Karena para wartawan yang hadir berusia antara 9 - 12 tahun, dan subjek utamanya adalah tinja.

Sepuluh murid peserta program Reporter Cilik dari Media Indonesia diundang untuk mewawancarai staf UNICEF tentang sebuah topik yang tidak nyaman - buang air besar sembarangan (BABS).

Lebih dari 54 juta penduduk Indonesia buang air besar di tempat terbuka, karena mereka tidak memiliki jamban atau toilet. Ini adalah angka yang kedua tertinggi di dunia. Hanya India yang memiliki jumlah yang lebih tinggi.

WASH Specialist Claire Quillet memberitahu mereka bagaimana BABS terkait dengan berbagai penyakit yang dapat dicegah namun berpotensi mematikan, misalnya diare dan pneumonia. Ini adalah kontributor utama untuk lebih dari 370 kematian balita per hari di negara ini.