Tuesday, 8 December 2015

Kisah Dewi: Rumah Pelacuran di Papua

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Dewi tinggal dan bekerja di lokalisasi Timika. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

Timika adalah kota kecil kotor yang terletak di perbatasan Provinsi Papua. Timika berada pada bayang-bayang tambang emas terbesar di dunia, Freeport. Tetapi kekayaan luas yang membentang beberapa mil jauhnya berdampak kecil terhadap kehidupan sebagian besar orang di Timika.

Papua berjuang dengan tingkat kemiskinan yang tinggi. Banyak keluarga mengandalkan sumber pendapatan mereka sepenuhnya pada penangkapan ikan atau sumber-sumber pendapatan pertanian lainnya. Pekerjaan seringkali langka dan kesempatan kerja tidak banyak. Bagi beberapa anak perempuan muda, hanya ada satu cara untuk menjalani hidup yang layak.

"Saya telah bekerja di lokalisasi  selama kurang lebih tiga bulan," kata Dewi*. Dewi sekarang tinggal di salah satu lokalisasi yang kotor di luar Timika. Kliennya kebanyakan laki-laki kelas pekerja dari desa-desa sekitarnya. Pelanggan saya antara lain "sopir truk, pekerja tambang dan tentara."

Friday, 4 December 2015

U-Report Indonesia Resmi Diluncurkan

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer 

Jeffery Hall dan Vania Santoso dari UNICEF Indonesia Innovation Lab bicara tentang U-Report. ©UNICEF Indonesia/2015 /Nick Baker 

Jakarta, INDONESIA 4 Desember 2015 - UNICEF resmi meluncurkan U-Report Indonesia: Sebuah platform inovatif baru yang memberikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk bicara tentang isu-isu yang mempengaruhi hidup mereka.

Ratusan anak muda Indonesia menghadiri acara peluncuran di Jakarta, dimana para anggota UNICEF Indonesia Innovation Lab menjelaskan tentang bagaimana U-Report bekerja dengan menggunakan ponsel.

U-Report Indonesia adalah sistem jajak pendapat berbasis Twitter yang memungkinkan anak-anak muda berbagi tentang pendapat mereka tentang topik-topik penting mulai dari pendidikan hingga kesehatan dan pemerintahan," kata UNICEF Indonesia Innovation Lead Jeffery Hall.

UNICEF sambut komitmen Gubernur untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak

Oleh Kinanti Pinta Karana, Spesialis Komunikasi UNICEF Indonesia

Gubernur Ganjar Pranowo (tengah, bertopi hitam) mengatakan anak-anak Indonesia harus tumbuh dengan hebat karena mereka adalah pemimpin masa depan.  © UNICEF Indonesia/2015/Julianingsih

Derai tawa anak-anak terdengar di halaman gedung DPRD Semarang dimana ratusan orang berkumpul untuk merayakan Hari Anak Sedunia.

Tamu kehormatan dalam acara yang diselenggarakan oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah bersama UNICEF dan sejumlah mitra lainnya adalah Gubernur Ganjar Pranowo.

Ia menunjukkan dukungan besar terhadap kesejahteraan anak Indonesia dengan bergabung dalam kampanye Pelindung Anak. “Anak-anak di Jawa Tengah harus tumbuh hebat karena mereka akan menjadi pemimpin Indonesia masa depan,” kata Bapak Ganjar setelah ia mendaftar online sebagai Pelindung Anak.

Tuesday, 1 December 2015

Pemberian ASI yang lebih baik: solusi untuk masalah kekurangan gizi

Sonya memberikan konseling tentang menyusui kepada ibu baru. ©UNICEF Indonesia/2015/Harriet Torlesse

Kabupaten Kupang merupakan salah satu kabupaten yang mengalami krisis permasalahan kekurangan gizi di NTT.

Sonya Timuli, tiga puluh dua tahun, bekerja setiap hari di kabupaten dan menghadapi permasalahan ini. Ia telah menjadi kader posyandu di sebuah desa kecil di daerah ini selama tujuh tahun terakhir.

Para kader posyandu seperti Sonya melihat anak-anak yang tak terhitung jumlahnya yang mengalami kekurangan gizi. Survei terbaru yang dilakukan oleh UNICEF dan Action Contre La Faim menunjukkan bahwa 21 persen anak-anak di daerah ini mengalami kurang gizi akut (sangat kurus) dan 52 persen mengalami stunting (terlalu pendek untuk usia mereka).

Untuk mengatasi masalah ini, Sonya memberikan berbagai layanan gizi kepada masyarakat  di desanya. Salah satu bagian terpenting dari pekerjaannya adalah memberikan bimbingan dan konseling kepada ibu-ibu baru tentang berbagai praktek pemberian ASI yang tepat.