Tuesday, 18 April 2017

Di Ujung Rotan Ada Emas


Oleh: Irna G. Setyawati, STKIP Muhammadiyah Sorong

Anak sekolah menulis dalam buku dia di Papua
© Nick Baker/ UNICEF / 2015  
“Di ujung rotan ada emas”. Itulah pepatah umum di Papua.

Pepatah ini sangat populer di kalangan guru sekolah dasar di daerah-daerah pesisir seperti Makbon dan Sorong. Pepatah tersebut digunakan untuk membenarkan tindakan mereka dalam mendisiplinkan anak-anak dengan memukul mereka dengan sebuah tongkat.

Akhir tahun lalu, para guru kelas dan kepala sekolah di empat sekolah di Kecamatan Makbon, Sorong, mendapatkan pelatihan tentang disiplin positif.

Disiplin positif meliputi penguatan positif untuk pilihan-pilihan yang baik serta akibat kenakalan siswa. Pelatihan ini membekali guru-guru dengan alternatif hukuman badani atau fisik untuk menangani kehadiran dan perilaku siswa di dalam kelas.


Wilhelmina, guru kelas tiga Sekolah Dasar Malaumkarta, mengingat pelatihan tersebut sambil tersenyum. Ia menggunakan contoh salah satu muridnya, Simon, yang tidak hadir selama satu bulan tetapi baru-baru ini ia kembali ke sekolah.

“Dulu, saya selalu berbicara dengan nada tinggi ketika bertanya kepada para siswa mengapa mereka tidak hadir. Hari ini, saya telah mengubah cara saya berkomunikasi dengan Simon,” katanya.

“Saya ingin agar Simon tidak takut dengan saya, dan saya percaya bahwa jika saya berbicara dengan Simon dengan cara sopan dan hormat, ia akan selalu datang ke sekolah.” 

Mery, guru kelas satu di Makbon, juga berbagi kisahnya. Sebelum mengikuti pelatihan, ia akan membawa tongkat rotan ke kelas. Ia akan memukul meja dengan rotan agar siswa memperhatikan atau memukul siswa karena kenakalan mereka, bahkan karena kegagalan mereka untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.

Setelah mengikuti pelatihan, Mery tidak lagi menggunakan tongkat dan memperkenalkan sistem penghargaan untuk mendorong perilaku yang baik. Ia mengatakan bahwa sistem penghargaan merupakan metode yang jauh lebih efektif untuk menjaga ketertiban di kelas.


“Dulu, saya selalu menggunakan tongkat untuk menenangkan siswa karena sulit untuk menangani mereka. Tetapi sekarang mereka mengikuti kesepakatan [sistem penghargaan] di kelas sehingga saya tidak lagi menggunakan tongkat,” jelasnya.

Baik Wilhelmina maupun Mery tidak tahu tentang disiplin positif sebelum mereka mengikuti pelatihan UNICEF. Sekarang, mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana hukuman badani dapat merusak anak-anak muda, dan tentang penghargaan terhadap bagaimana sikap kepedulian dan penguatan positif dapat membentuk karakter dan harga diri anak.
 
Tanpa kesadaran yang lebih tinggi tentang pengaruh negatif yang diakibatkan oleh hukuman badani, mereka berdua sepakat bahwa kekerasan terhadap anak akan terus terjadi di sekolah-sekolah