Friday, 26 May 2017

Menstruasi, penting diketahui anak perempuan maupun lelaki

By: Liz Pick, Communication Specialist

Buku komik untuk anak laki-laki tentang "Apa itu Menstruasi?"
©UNICEF Indonesia/2016/Tongeng

Tanggal 28 Mei kini diperingati sebagai Hari Kebersihan Menstruasi sedunia—hari yang menyerukan adanya kesadaran lebih tinggi mengenai pentingnya manajemen kebersihan menstruasi (MKM) dalam membantu wanita dan anak-anak perempuan mewujudkan potensi dirinya.

UNICEF Indonesia telah bergabung dengan gerakan global yang mendorong agar pendidikan menstruasi diberikan tak hanya kepada anak perempuan, tetapi juga lelaki.

Lho, bukankah menstruasi hanya dialami perempuan? Untuk apa diajarkan kepada anak lelaki?”
Begitu mungkin pertanyaan yang timbul di benak sebagian orang.

Yuk, kita simak situasi berikut.

Sebanyak lima orang murid kelas enam, semua lelaki, duduk membentuk lingkaran di perpustakaan sekolah ditemani seorang fasilitator. Sebuah pembalut sekali pakai diedarkan di antara mereka. “Ada yang tahu, benda apa itu?” tanya fasilitator.

Setiap anak tampak bingung sembari melihat-lihat benda halus dan lunak berwarna putih di tangannya. Seorang anak akhirnya menebak, “Masker wajah, ya?”

Ariel, siswa lain di kelompok itu, mengaku ia pernah melihat benda serupa di bantaran sungai setelah hanyut terbawa air. Sungai mengalir melalui area kampung tempat warga mandi dan membuang sampah.


Hanya Dermawan yang tahu bahwa benda itu adalah pembalut karena ibunya membeli benda serupa di warung, walaupun ia tidak tahu kegunaannya.


Seorang siswa membaca buku "Apa itu Menstruasi" pada halaman untuk anak perempuan
©UNICEF Indonesia/2016/Tongeng

Di Indonesia, menstruasi dianggap sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan sehingga jarang dibahas. Tak sedikit anak perempuan yang bahkan baru mengetahui mengenai menstruasi di hari pertama mereka mengalaminya—dan bukan dari ibu atau guru mereka sebelumnya. Hal inilah yang justru bisa menimbulkan rasa takut, malu, dan pandangan bahwa fungsi tubuh yang alamiah ini adalah aib.

Berdasarkan survei daring pada bulan Mei 2017 oleh UNICEF U-Report, 17% anak perempuan di Indonesia diejek dan dirundung oleh sesama murid, terutama lelaki, saat mengalami menstruasi. Hal ini bisa membuat anak perempuan memilih membolos sekolah untuk menghindari perlakuan itu. Namun, jika terlalu sering, akumulasi jumlah hari absen dapat menyebabkan murid tertinggal pelajaran atau bahkan dikeluarkan dari sekolah.

Untuk mengatasi hal ini, pada tahun 2016 UNICEF Indonesia dan program Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dari pemerintah menerbitkan buku komik yang menerangkan menstruasi dengan kata-kata sederhana dan ilustrasi sesuai usia pembaca sasaran. Dirancang untuk anak-anak pada usia menjelang pubertas, buku ini bisa dibaca dari kedua sisi—satu sisi untuk anak perempuan dan sisi lain untuk anak lelaki.

Kedua segmen komik menjelaskan menstruasi sebagai peristiwa alamiah yang terjadi setiap bulan dan memungkinkan perempuan untuk mengandung.

Di sisi anak perempuan, ada informasi lebih banyak mengenai tindakan pengelolan semasa menstruasi, termasuk kebersihan diri dan praktik sanitasi; saran jika merasa tidak nyaman atau sakit; dan kiat jika terdapat noda darah pada pakaian saat berada di sekolah.

Di sisi anak lelaki, pembaca diingatkan agar memperlakukan teman perempuan mereka dengan baik, tidak mengejek atau mengolok-olok, dan bersedia membantu jika dibutuhkan.


Tim UNICEF memfasilitasi diskusi bersama dua orang siswa.
©UNICEF Indonesia/2016/Tongeng

Tahun lalu, UNICEF membagikan komik ke 50 SD di dua tempat dengan karakteristik berbeda, yaitu Kota Bandung, Jawa Barat, dan Kabupaten Biak Numfor di Papua. Total, sekitar 4.000 murid lelaki dan perempuan menerima komik pada tahap percobaan ini. Untuk membantu memahami isi komik, sebagian besar guru mengajak murid membaca dan mendiskusikan pesan saat pelajaran bahasa; ada pula guru yang mengintegrasikan komik ke dalam pelajaran agama, IPA, dan olah raga.

Hasil studi sebelum dan sesudah distribusi komik menunjukkan perkembangan luar biasa. Di Bandung, pengetahuan anak lelaki mengenai menstruasi sebagai proses biologis yang dialami perempuan naik dari 60 persen ke hampir 90 persen setelah membaca komik.

Tak hanya itu, perubahan sikap pun turut dicatat. Jumlah anak lelaki yang merasa mereka harus menghormati keadaan teman yang sedang menstruasi naik ke 80 persen dari 59 persen, sementara 91 persen merasa mereka seharusnya bisa lebih bersikap lebih baik terhadap anak perempuan dalam masa menstruasi (naik dari 68 persen).

Hal serupa juga terjadi di Biak; menurut 85 persen anak lelaki, anak perempuan tidak seharusnya diejek karena menstruasi—naik dari 63 persen sebelum mereka membaca komik.

Lalu, bagaimana kabar adik-adik di perpustakaan tadi? Sekarang, mereka telah selesai membaca komik dan bergiliran menjelaskan isi bacaan tanpa terlihat rikuh. Dengan tepat, mereka bisa menjelaskan arti menstruasi dan mengapa memberi contoh sikap yang baik kepada anak perempuan sangat penting. Nampaknya, pesan telah sampai dengan jelas: menstruasi penting untuk diketahui semua orang.

Artikel ini ditulis berdasarkan artikel oleh Andi Bunga Tongeng (fasilitator WASH, UNICEF Makassar)


Tonton video berdasarkan buku komik melalui tautan ini: