Friday, 14 July 2017

Melawan Malnutrisi dengan Perawatan Berbasis Komunitas

oleh Blandina Bait, Pejabat Nutrisi

UNICEF mendukung pemerintah Indonesia untuk mengimplementasikan program nutrisi CMAM © UNICEF / 2017

Alfredo (dua tahun) sudah menderita diare selama dua hari saat ibunya yang khawatir, Yosina, membawanya ke puskesmas di dekat komunitas petani pedesaan di Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Anak laki-laki itu sangat lemah dan terlihat pucat; petugas kesehatan yang menanganinya menyatakan bahwa Alfredo menderita gizi buruk akut (SAM).

"Saya sedih dan kaget saat tahu bahwa Alfredo menderita gizi buruk akut," kata Yosina. Dia lebih khawatir lagi ketika mengetahui bahwa SAM membuat Alfredo lebih rentan terhadap penyakit yang bisa mengakibatkan kematian.

Yosina tidak ragu saat petugas kesehatan memintanya untuk
mendaftarkan diri dalam program Pengelolaan Gizi Buruk Berbasis Komunitas (CMAM) untuk anak-anak berusia 6-59 bulan. Meskipun biaya perjalanan pulang pergi selama satu jam (4 dolar/Rp. 55.000,-) ke puskesmas untuk perawatan mingguan Alfredo adalah biaya yang cukup besar bagi keluarga petani kecil, dia dan suaminya setuju bahwa ini penting demi masa depan Alfredo.

UNICEF bermitra dengan LSM Action Against Hunger (Aksi Melawan Kelaparan) dalam mendukung Kementerian Kesehatan untuk memperkenalkan pendekatan CMAM dalam menangani malnutrisi akut di Indonesia.

CMAM memiliki fokus yang kuat pada mobilisasi masyarakat dan secara aktif mencari kasus-kasus yang terjadi, untuk memastikan semua anak dengan SAM dapat diidentifikasi dan dirujuk untuk perawatan. Hambatan jarak dicoba untuk dihilangkan dengan cara merawat anak-anak sebagai pasien rawat jalan. Sesuai pedoman WHO, hanya anak-anak dengan komplikasi medis yang harus dirawat sebagai pasien rawat inap.

Sebagai pasien rawat jalan, anak-anak menerima Ready-to-Use Therapeutic Food (RUTF/makanan terapeutik siap saji) dan mengunjungi puskesmas seminggu sekali. Pendekatan ini mengurangi beban pada sistem kesehatan dan orang tua, dengan membiarkan anak-anak tanpa komplikasi tetap berada di rumah selama masa perawatan.

Sebelum mengikuti program CMAM, nafsu makan Alfredo buruk dan sulit makan, dia sering tidak mau makan bubur nasi yang diberikan ibunya. Tapi hanya tiga minggu setelah mengikuti program, Yosina sudah bisa melihat perubahan positif pada Alfredo; nafsu makannya membaik dan berat badannya bertambah.
  
Hasil ini memotivasi Yosina untuk terus membawanya ke puskesmas setiap minggu dan setelah 8 minggu, dia sembuh dan dapat keluar dari program tersebut.

Sebagai bagian dari program ini, Yosina juga diberikan bimbingan dalam praktik Pemberian Makan yang Baik bagi Bayi dan Anak serta saran-saran umum kesehatan dan gizi untuk memberikan makanan seimbang bagi seluruh keluarga. Dia belajar pentingnya menambahkan lebih banyak sayuran dan protein ke dalam bubur, nasi atau mie untuk membantu memerangi kekurangan gizi.

Saat ini, Alfredo adalah anak yang bahagia dan aktif dengan mata yang tajam dan jernih. Sambil tersenyum, dia bermain dengan bonekanya, sementara ibunya mengobrol dengannya dengan penuh rasa sayang. Dia adalah anak pertama dari desa Ekatata yang terdaftar dalam program ini dan masyarakat desanya bangga bahwa dia telah sembuh dan selesai mengikuti program.

Ibunya sangat ingin berbagi pengalaman dan memotivasi orang tua lainnya di desanya untuk secara teratur memeriksa status gizi anak-anak mereka dan melakukan pemeriksaan gizi bulanan di puskesmas.


Kelegaannya terlihat saat dia menjelaskan bagaimana program CMAM telah mengubah kesehatan Alfredo. "Sekarang, saya tidak perlu menggendongnya ke sekitar rumah hanya untuk menghabiskan semangkuk bubur, karena dia memiliki selera makan yang baik; sekarang dia selalu minta makan dan menghabiskannya. "