Monday, 28 August 2017

Menuju Rumah Bebas Asap di Kalimantan

By Cory Rogers, Communication Officer


Bahan-bahan sederhana digunakan untuk menguji keampuhan metode pencegahan asap berbiaya murah bersama mitra di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, salah satu wilayah terdampak kabut asap.© Cory Rogers / UNICEF / 2017


Palangka Raya: Bagi warga Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kabut asap begitu mengganggu hingga terkadang sulit menemukan jalan pulang.

“Saya bekerja sebagai nelayan,” kata Ipung. Ayah dua anak bertubuh ramping ini tinggal di tepi Sungai Rungan, sekitar 40 menit ke arah hulu dari Palangka Raya. “Kabut asap mengganggu kehidupan kami; anak-anak tidak bisa bersekolah dan kami semua mengalami batuk.”

Desa Katimpun tempat Ipung tinggal terletak dekat dengan wilayah gambut yang terbakar tiap tahun dan membuat sebagian kawasan Kalimantan—yang masuk wilayah teritorial Indonesia—diselubungi kabut asap. Sejak tahun 2016, UNICEF terlibat mencari cara untuk membantu menjaga anak dan keluarga seperti Ipung aman dari asap berbau itu.



“Dulu, saat pulang saya bahkan tidak bisa menyalakan mesin perahu, melainkan harus mendayung sambil pasang telinga mendengar suara istri yang memandu,” kata Ipung. “Kadang-kadang, saya tidak bisa melihat apa-apa sehingga harus menginap di hutan.”

Peristiwa yang disampaikan Ipung tadi terjadi pada bulan-bulan menjelang akhir 2015, ketika kabut asap begitu tebal, udara sekitar berwarna kuning, dan jarak pandang sangat terbatas. Api menyambar dan pepohonan tumbang. Pada akhirnya, sekitar 4,5 juta hektare—wilayah yang kira-kira sama luasnya dengan Denmark--habis terbakar.


Ipung di depan rumahnya. © Cory Rogers / UNICEF / 2017

Ratusan ribu orang harus dirawat di rumah sakit sebagai akibat pencemaran udara berat itu. Harapan hidup ribuan orang lainnya pun diperkirakan menjadi lebih singkat. Namun, dampak terburuk dialami oleh anak-anak; paru-paru dan organ dalam lain mereka masih berkembang, sementara mereka juga yang rata-rata menghabiskan lebih banyak waktu di luar ruangan dibandingkan orang dewasa.

“Selama berbulan-bulan selama masa kebakaran hutan anak-anak terpapar pencemaran udara beracun. Pada masa itu pula proses belajar mereka terhenti karena sekolah terpaksa ditutup sementara,” kata Richard Wecker, Spesialis Penurunan Risiko Bencana UNICEF Indonesia. 


“Berlangsung bertahun-tahun, peristiwa ini mengakibatkan akumulasi dampak pada kemampuan anak untuk bertahan hidup, belajar, dan bertumbuh kembang, selain mereka mewarisi lingkungan yang rusak.”

Melihat semua kerusakan ini, menurut Ipung, menghentikan asap seharusnya tidak rumit.

“Di musim kering, jika hujan tidak turun, api terus menyala,” katanya, sementara tetangganya yang juga nelayan meluncur masuk dengan perahu ke badan sungai membawa sekitar 30 ekor ikan. “Nah, karena kita tidak bisa menciptakan hujan, maka api yang harus dihentikan. Begitu saja.”

Mengurangi Bahaya

Sebenarnya, Ipung benar. Mencegah api adalah satu-satunya cara untuk menghentikan kabut asap.

Namun, sementara Pemerintah Indonesia berupaya menghentikan kebakaran lahan penyebab kabut asap (khususnya kebakaran di rawa gambut dengan kandungan karbon tinggi dan diperkirakan menjadi penyebab 90% kebakaran di tahun 2015), keluarga-keluarga—terutama anak-anak—harus dilindungi dari asap berbahaya.

“Sejumlah penelitian menunjukkan hubungan antara paparan terhadap sedikit partikel asap dengan awal penyakit pernapasan kronis, kematian, keterlambatan perkembangan, dan risiko kesehatan lain pada anak-anak,” Wecker menjelaskan.


Anak-anak desa Katimpun, Palangka Raya, menderita akibat kabut asap yang timbul setiap beberapa waktu dan mengancam kesehatan serta pendidikan mereka. © Cory Rogers / UNICEF / 2017

Dibandingkan dengan, misalnya, asap pembuangan yang sistem pengendaliannya sudah cukup berkembang, risiko paparan kabut asap belum dipahami dengan baik. Ancaman kabut asap terhadap kesehatan masyarakat baru timbul dalam beberapa dasawarsa terakhir, dan berbagai penelitian jangka panjang masih terus dilakukan.

Wecker menambahkan, “Mengingat dampak paparan kumulatif asap belum diketahui secara lengkap, upaya menurunkan risiko bahaya menjadi amat penting.”

“Namun, kita tahu bahwa anak-anak adalah kelompok paling rentan terhadap dampak kabut asap. Untuk itu, solusi harus bermula dari rumah dan sekolah—dua tempat paling utama dalam kehidupan mereka.”

Ruang aman tanpa menelan biaya tinggi?

Tujuan intervensi UNICEF adalah mengembangkan cara praktis untuk memastikan ruangan bebas dari asap—panduan yang terjangkau dari segi biaya, dapat disebarluaskan, dan menarik bagi warga. UNICEF juga bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia unuk mempelajari dan mendokumentasikan standar minimal pencemaran udara di dalam ruangan.

Dalam upaya di atas, UNICEF bekerja sama dengan mitra setempat Ranu Welum Foundation, sebuah LSM di Palangka Raya. Didirikan tahun 2015, Ranu Welum awalnya berfokus pada budaya lokal dan media, namun seiring dengan memuncaknya krisis kabut asap, perhatiannya pun berkembang dan kini meliputi kesiapan menghadapi kabut asap.

Terletak hanya 20 menit ke arah selatan dari Katimpun, kantor Ranu Welum juga berfungsi sebagai ‘rumah singgah kabut asap’ dan mampu menyaring butiran terkecil paling berbahaya sekalipun dari kabut asap.


Seorang anggota tim dari Big Red Button membantu menyempurnakan desain pintu anti-kabut asap di kantor Ranu Welum, Palangka Raya. © Cory Rogers / UNICEF / 2017

“Peralatan anti-kabut asap di sini adalah sarana pendidikan yang luar biasa,” kata Emmanuela Shinta, pendiri Ranu Welum. “Namun, harganya mahal, sehingga tidak bisa dibuat sendiri oleh warga setempat.”

JP Wack, konsultan teknis UNICEF, memimpin tim penguji mutu udara yang terdiri dari perwakilan PulseLab Jakarta, Ranu Welum, Big Red Button yang berbasis di Singapura, Kopernik, dan Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Bersama-sama, mereka berupaya menemukan sarana paling sederhana dan terjangkau untuk mencegah kabut asap mencemari bagian dalam rumah.

Sebanyak dua rumah dipilih sebagai tempat uji coba—satu rumah kayu di desa Ipung dan satu rumah beton di kawasan kota.

“Di kedua model rumah, kami mencatat celah-celah yang memungkinkan udara luar masuk agar kami tahu bagian mana yang perlu ditutup,” jelas Wack. “Setelah itu, kami membeli bahan yang dibutuhkan di toko material setempat dan mulai bekerja.”

Total biaya material—barang sederhana seperti palu dan lembaran plastik—adalah sekitar Rp350.000 (setara 26 USD), kata Wack lagi. “Sedikit di atas biaya ideal yang kami harapkan, tapi masih masuk akal.”

“Untuk menentukan seberapa efektif desain kami dalam membuang butiran beracun di udara, kami melakukan simulasi kabut asap di satu ruangan dengan cara membakar kayu. Setelah itu, memanfaatkan alat pemantau mutu udara, kami melihat apakah ada perubahan level racun setelah kipas dan alat saring digunakan.

Menurut Wack, “Solusi ini cukup berhasil membuang butir-butir partikel yang sangat halus. Tapi, tantangan di rumah kayu jelas lebih besar ketimbang rumah beton di Palangka Raya, karena suhu menjadi sangat panas jika semua celah ruangan ditutup.”

Musim kering telah tiba kembali. Kondisi kebakaran hutan, sementara itu, membaik. Eksperimen UNICEF membuat ruangan bebas dari asap dengan biaya rendah berhasil menjawab kebutuhan saat ini. Tantangannya sekarang adalah menyempurnakan model awal yang sudah dikembangkan dan mendorong pemanfaatannya oleh warga—tugas yang menanti pada tahap berikutnya dari intervensi UNICEF untuk mencegah risiko bahaya akibat asap.

“[Upaya] ini bukan hanya untuk Palangka Raya,” ujar Shinta dari Ranu Welum (tampak pada foto di bawah) selepas pertemuan dengan UNICEF dan perwakilan pemerintah daerah tentang mengurangi dampak kabut asap.

“Upaya ini adalah awal gerakan membangun kesadaran di seluruh provinsi.”


Emmanuela Shinta dan perwakilan UNICEF Richard Wecker dalam pertemuan dengan pemangku kepentingan dari pihak pemerintah. © Cory Rogers / UNICEF / 2017